Minggu, 07 Juni 2015

Taman Loji, Menara yang terlupakan

   

Menara Simbol Kejayaan Perkebunan Karet milik Mr. WA Baron Van Baud yang telah berusia 173 tahun dengan perusahaan Perkebunan Karet bernama Oderneming Van Maatschapaij Baud sekitar  tahun 1841.

                Walikota Bandung terpilih saat ini yaitu Ridwan Kamil cukup aktif membuka banyak taman di Bandung. Sebut saja taman foto, pet park, taman pasupati, taman film dan masih banyak lagi taman taman yang sengaja dibuat untuk ruang publik. namun ada taman yang berdiri cukup lama di pinggiran kota Bandung namun namanya kurang dikenal oleh sebagain penduduk Bandung.

Di Sumedang tempo dulu, Jatinangor merupakan daerah perkebunan, tepatnya daerah perkebunan karet, pemilik perkebunan karet di Jatinangor adalah W.A Baron Baud seorang berkebangsaan Jerman. Jika anda memasuki kawasani kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, anda yang menggunakan kendaraan pribadi dan hendak melewati jalan menanjak yang berawal dari pangkalan bis DAMRI hingga pintu masuk Unpad sebelah Utara, anda akan melewati Institut Teknologi Bandung (dulu Universitas Winaya Mukti (Unwim)), pintu masuk lapangan golf Bandung Giri Gahana, serta jalan menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Umumnya, mereka melewati jalan itu tanpa memperhatikan sisi jalan. Tanpa disadari, ternyata di kawasan itu terdapat sebuah situs bersejarah. Ketika anda sampai di sekitar ITB Jatinangor, di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik ITB, terdapat sebuah susunan huruf-huruf yang bertulisan "TAMAN LOJI". Mengapa dinamai Taman Loji? karena di dalamnya terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak. Masyarakat sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Di Sumedang tempo dulu, Jatinangor merupakan daerah perkebunan, tepatnya daerah perkebunan karet, pemilik perkebunan karet di Jatinangor adalah W.A Baron Baud seorang berkebangsaan Jerman. Jika anda memasuki kawasani kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, anda yang menggunakan kendaraan pribadi dan hendak melewati jalan menanjak yang berawal dari pangkalan bis DAMRI hingga pintu masuk Unpad sebelah Utara, anda akan melewati Institut Teknologi Bandung (dulu Universitas Winaya Mukti (Unwim)), pintu masuk lapangan golf Bandung Giri Gahana, serta jalan menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Umumnya, mereka melewati jalan itu tanpa memperhatikan sisi jalan. Tanpa disadari, ternyata di kawasan itu terdapat sebuah situs bersejarah. Ketika anda sampai di sekitar ITB Jatinangor, di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik ITB, terdapat sebuah susunan huruf-huruf yang bertulisan "TAMAN LOJI". Mengapa dinamai Taman Loji? karena di dalamnya terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak. Masyarakat sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Di Sumedang tempo dulu, Jatinangor merupakan daerah perkebunan, tepatnya daerah perkebunan karet, pemilik perkebunan karet di Jatinangor adalah W.A Baron Baud seorang berkebangsaan Jerman. Jika anda memasuki kawasani kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, anda yang menggunakan kendaraan pribadi dan hendak melewati jalan menanjak yang berawal dari pangkalan bis DAMRI hingga pintu masuk Unpad sebelah Utara, anda akan melewati Institut Teknologi Bandung (dulu Universitas Winaya Mukti (Unwim)), pintu masuk lapangan golf Bandung Giri Gahana, serta jalan menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Umumnya, mereka melewati jalan itu tanpa memperhatikan sisi jalan. Tanpa disadari, ternyata di kawasan itu terdapat sebuah situs bersejarah. Ketika anda sampai di sekitar ITB Jatinangor, di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik ITB, terdapat sebuah susunan huruf-huruf yang bertulisan "TAMAN LOJI". Mengapa dinamai Taman Loji? karena di dalamnya terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak. Masyarakat sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Di Sumedang tempo dulu, Jatinangor merupakan daerah perkebunan, tepatnya daerah perkebunan karet, pemilik perkebunan karet di Jatinangor adalah W.A Baron Baud seorang berkebangsaan Jerman. Jika anda memasuki kawasani kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, anda yang menggunakan kendaraan pribadi dan hendak melewati jalan menanjak yang berawal dari pangkalan bis DAMRI hingga pintu masuk Unpad sebelah Utara, anda akan melewati Institut Teknologi Bandung (dulu Universitas Winaya Mukti (Unwim)), pintu masuk lapangan golf Bandung Giri Gahana, serta jalan menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Umumnya, mereka melewati jalan itu tanpa memperhatikan sisi jalan. Tanpa disadari, ternyata di kawasan itu terdapat sebuah situs bersejarah. Ketika anda sampai di sekitar ITB Jatinangor, di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik ITB, terdapat sebuah susunan huruf-huruf yang bertulisan "TAMAN LOJI". Mengapa dinamai Taman Loji? karena di dalamnya terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak. Masyarakat sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
    Saat memasuki kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, baik itu mahasiswa maupun umum yang menggunakan kendaraan pribadi akan melewati jalan menanjak yang berawal dari pangkalan bis DAMRI Jatinangor hingga pintu masuk Unpad sebelah Utara. Dalam perjalanan tersebut, para mahasiswa melewati Universitas Winaya Mukti (Unwim), pintu masuk lapangan golf Bandung Giri Gahana, serta jalan menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Umumnya, mereka melewati jalan itu tanpa memperhatikan sisi jalan. di kawasan itu terdapat sebuah situs bersejarah yang keberadaannya kurang disadari oleh masyarakat.

Di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik Unwim, terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Pada menara tua dan tidak terurus itu, terdapat tumbuhan liar yang memenuhi. Berbagai coretan pun mengotori tembok putihnya. Menara apakah itu? Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak. Sulit untuk mengetahu nama pasti menara ini. Ada yang menyebutnya Menara Jam. Beberapa pihak menyebutnya sebagai Menara Baron Baud, sesuai dengan nama pemiliknya. Akan tetapi, masyarakat sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.

         Pada masa penjajahan, Jatinangor adalah areal perkebunan pohon karet. Pemilik perkebunan karet tersebut adalah seorang pria berkebangsaan Jerman, bernama Baron Baud. Ia bersama perusahaan swasta milik Belanda, pada tahun 1841, mendirikan perkebunan karet yang luasnya mencapai 962 hektar. Perkebunan ini membentang dari tanah IPDN hingga Gunung Manglayang. Untuk mengontrol perkebunannya yang luas, Baron Baud membangun sebuah menara. Menara ini dilengkapi dengan sebuah lonceng yang terletak di puncak menara dan tangga untuk sampai ke puncaknya.


Perkebunan teh Jatinangor pada tahun 1885

Menara Loji memiliki dua fungsi utama. Pertama, untuk mengawasi para penyadap karet yang ia pekerjakan. Kedua, sebagai penanda waktu kerja para penyadap karet. Pada pukul 05.00, lonceng dibunyikan, tanda bagi pekerja untuk mulai menyadap karet. Lonceng kembali berbunyi pada pukul 10.00, sudah saatnya bagi pekerja untuk mengambil mangkuk-mangkuk yang telah terisi getah karet. Terakhir, lonceng dibunyikan lagi pada pukul 14.00, para pekerja diperbolehkan pulang.

Memasuki masa kemerdekaan Indonesia, tanah perkebunan karet Jatinangor dinasionalisasikan, dan menjadi milik Pemerintah Daerah (Pemda) Sumedang. Sayangnya, Pemda tidak melakukan penjagaan yang baik terhadap situs ini. Pada tahun 1980, lonceng Menara Loji dicuri. Hingga kini, kasus pencurian ini belum terselesaikan. Pada tahun 1990, area perkebunan dialihfungsikan menjadi kawasan pendidikan dengan dibangunnya empat perguruan tinggi, yakni IPDN (Institut Pendidikan Dalam Negeri), Ikopin (Institut Koperasi Indonesia), Unpad, dan Unwim.
        
           Sekira tahun 1980-an lonceng Menara Loji dicuri dan hingga kini kasusnya masih belum jelas; baik mengenai pencurinya, apa motifnya, dan bagaimana tindak lanjut dari pihak berwenang. Bahkan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang pun – selaku pihak yang seharusnya mengawasi pemeliharaan cagar budaya – tidak tahu-menahu mengenai kelanjutan kisah pencurian itu. Saat ini Menara Loji nampak tidak terurus. Perawatan terakhir menara ini berupa pengecatan ulang yang dilakukan oleh pihak Rumah Tangga UNWIM pada tahun 2000.

          Jembatan di Cikuda yang sering disebut dengan nama Jembatan Cincin pada mulanya dibangun sebagai penunjang lancarnya kegiatan perkebunan karet. Jembatan Cincin dibangun oleh perusahaan kereta api yang bernama Staat Spoorwegen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1918 dan berguna untuk membawa hasil perkebunan. Pada masanya jembatan ini menjadi salah satu roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat dan setiap pagi hari hasil bumi dari Tanjungsari dibawa melalui jembatan ini untuk dijual di Rancaekek. Rutinitas itu berjalan terus sampai kemudian pada Perang Dunia II tentara Jepang mengangkut besi-besi rel untuk dilebur menjadi persenjataan perang.

       Sebagaimana halnya dengan Menara Loji, tidak ada satupun instansi yang mau menangani perawatan jembatan bersejarah ini. Baik Pemda Sumedang maupun PT KAI (Kereta Api Indonesia) – dua pihak yang cukup berkepentingan dengan Jembatan Cincin – menyatakan bahwa pemeliharaan Jembatan Cincin tidak termasuk dalam tanggungjawabnya. Menurut PT KAI, jembatan ini tidak pernah diperbaiki karena sudah tidak digunakan lagi. Sedangkan menurut Dinas Budaya dan Pariwisata Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, perawatan bangunan bersejarah tidak termasuk dalam tanggung jawab dinas tersebut karena dinas ini hanya bertugas memperhatikan dan membina nilai-nilai budaya.


sumber :
http://jatinangorpisan.blogspot.com/2008/01/menara-loji-saksi-sejarah-yang.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Jatinangor,_Sumedang

sumber foto :
http://sugenghadiyono.blogspot.com/2014/06/mengintip-kawasan-perkotaan-jatinangor.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Jatinangor,_Sumedang
http://log.viva.co.id/news/read/421819-bangunan-tempo-dulu-di-jatinangor Putri Megasarifey777

1 komentar:

  1. Karena loksi nya masuk ke kab. Sumedang jadi pak walikota Ridwan Kamil bukan pihak yang berwenang untuk memeliharanya...

    BalasHapus