Kamis, 04 Juni 2015

Kerkhoff di Bandung Tempo dulu (bagian 2)

    


    Sebagian makam yang dibongkar dari Kebon Jahe dipindahkan ke Makam Kristen Pandu dan masih dapat ditemui di sana. Apabila makam-makam ini dikumpulkan di dalam satu area, tentu masih mampu menghadirkan cerita-cerita Bandung tempo dulu yang belakangan ini semakin diminati masyarakat Bandung. Berikut ini sebagian cerita nisan dan makam yang masih dapat disaksikan di kompleks Permakaman Pandu.

Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker
Di bidang arsitektur, kita sering dengar ungkapan bahwa Bandung adalah kotanya Schoemaker. Pernyataan seperti itu muncul karena di seluruh wilayah Bandung tersebar bangunan-bangunan monumental hasil karya arsitek Charles Prosper Wolff Schoemaker. Sebut saja Gedung Merdeka, Hotel Preanger, Gedung Majestic, Gedung Landmark, Gereja Bethel, Katedral Santo Petrus, Gedung Jaarbeurs (Kologdam), Villa Isola, Gedung PLN, Gedung Sabau, Masjid Cipaganti dan masih banyak lagi.
Wolff Shoemaker adalah seorang arsitek dan guru besar di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB). Ia lahir di Banyu Biru pada tanggal 25 Juli 1882, wafat di Bandung tanggal 22 Mei 1948 dan dimakamkan di Permakaman Pandu. Bentuk makamnya sangat sederhana dengan nisan berdiri berisi keterangan tanggal lahir dan wafat serta teks singkat riwayat hidupnya. Arsitek ini juga dikenal sebagai guru calon presiden RI pertama, Sukarno, semasa kuliah dan setelah bekerja sebagai juru gambar di biro arsitek milik Schoemaker. Sayang sekali tokoh ini sempat terlupakan sehingga makamnya pun hampir dibongkar karena tunggakan pembayaran pajak antara 1994-2006 sebesar Rp. 180.000,-.


Raymond Kennedy
Sepintas tidak ada yang istimewa dari makam ini. Tidak memiliki bentuk yang unik, tidak mewah seperti makam-makam di sekitarnya. Makam ini bahkan tidak akan menarik perhatian Anda bila melintasinya. Makam ini ditandai dengan dua buah nisan, satu nisan berdiri dan satu nisan berbaring. Nisan yang berdiri berupa batu besar dan tinggi, di beberapa bagiannya sudah ditumbuhi lumut sedangkan di bagian bawah sudah tertimbun tanah dan semak-semak. Pada batu itu terpahat nama yang sudah samar, Raymond Kennedy. Dibawah nama itu mungkin sebelumnya ada satu plakat lain, namun sudah hilang entah kemana.

Kennedy adalah seorang profesor antropologi dari Yale Univeristy yang sudah menulis tiga buah buku tentang etnologi Indonesia. Pada tahun 1950, Kennedy sudah tinggal setahun di sini dan sedang mengadakan penelitian tentang pengaruh kebudayaan barat di Indonesia. Semestinya, nisan Raymond Kennedy ini tidak sendiri, ada nisan seorang rekannya yang juga ikut terbunuh di jalur jalan antara Cimalaka dan Tomo, Robert Doyle, seorang jurnalis dari majalah Time and Life yang sedang mengadakan penelitian di kalangan petani di Priangan. Raymond Kennedy dan Robert Doyle sedang dalam perjalanan menuju Cirebon ketika di suatu lokasi dekat Cimalaka mereka dihentikan dan diinterogasi oleh sekelompok serdadu KNIL. Tidak jelas apa yang terjadi dalam interogasi itu, tetapi keduanya ditembak mati di tempat. Para serdadu memerintahkan warga untuk merahasiakan kejadian itu dan agar segera menguburkan kedua jenazah mereka. 

Selang sehari jenazah kedua orang ini ditemukan dan keesokan harinya berita tentang mayat Robert Doyle sudah dimuat di koran The New York Times. Kejadian ini dianggap sangat misterius sampai Perdana Mentri Moh. Hatta ikut berkomentar dan meyakinkan masyarakat bahwa Pemerintah Indonesia tidak akan menelantarkan kasus ini sampai orang-orang yang bertanggung jawab diungkap dan dibawa ke pengadilan.Pada tanggal 30 April warga Amerika berkumpul untuk ikut mengantarkan jenazah Raymond Kennedy dan Robert Doyle yang dimakamkan di Permakaman Pandu. Beberapa waktu kemudian, para koleganya mempersembahkan monumen dan plakat yang sampai kini masih berdiri – walaupun tidak terawat – di Permakaman Pandu.



Makam Raymond Kennedy-1

Mausoleum Ursone
Mausoleum adalah bangunan yang memiliki ruangan untuk menyimpan satu atau lebih makam di dalamnya. Di Bandung, beberapa bangunan semacam ini dapat ditemukan di Permakaman Cikadut. Di dalam kota, mungkin hanya di Permakaman Pandu saja terdapat sebuah mauseloum dari masa Hindia Belanda, yaitu milik keluarga pengusaha peternakan berkebangsaan Italia, Ursone. Bangunan mausoleum yang indah ini berbentuk seperti kuil zaman Romawi kuno dengan dua patung malaikat di kedua sisi depannya mengapit pintu masuk. Pada bagian atas tertera tulisan dalam bahasa Latin – ORATE PRO NOBIS – yang berarti “Doakanlah Kami” dan di bawahnya, atau tepat di atas pintu masuk, terdapat tulisan Fam. Ursone.

Keluarga Ursone pernah membawa Kota Bandung menjadi sangat terkenal di awal abad ke-20. Keluarga ini membuka peternakan sapi di wilayah Lembang pada tahun 1895, lalu mendirikan pabrik pemerahan susu Lembangsche Melkerij Ursone yang terkenal sebagai pabrik penghasil susu berkualitas tinggi di Hindia Belanda. Saat mengawali peternakannya, keluarga Ursone memiliki 30 ekor sapi perah yang didatangkan langsung dari daerah Friesland di negeri Belanda. Dalam waktu singkat jumlah sapi ini bertambah sampai 250 ekor. Produksi susu yang awalnya hanya 100 botol saja bertambah menjadi ribuan liter setiap harinya. Produksi susu yang melimpah ini kemudian ditampung di Bandoengsche Melk Centrale, yaitu badan usaha gabungan para peternak dan pengusaha susu yang memiliki fasilitas pengolahan modern dan jaringan distribusi yang lebih luas.

Makam yang bangunannya dilapisi batu marmer ini merupakan pindahan dari kerkhoff Kebon Jahe.  Terdapat delapan nama dengan 11 nisan yang terpasang baik di bagian luar atau bagian dalam mauseloum ini. Kedelapan nama itu adalah A. C. Ursone v Dijk, A. Ursone, Antonio Domenico De Biasi, Dr. C. G. Ursone, G.M. Ursone, J. A. G. van Dijk, M. G. Ursone, P. A. Ursone.Tanggal lahir dan tanggal wafat ditulis dengan cara yang unik. Pada plakat A. C. Ursone v Dijk tertulis  –   yang artinya lahir pada tanggal 28 April 1881 dan wafat pada tanggal 10 Agustus 1919. Pada plakat Antonio Domenico De Biasi tertera   –   yang berarti lahir 12 Januari 1883, wafat 26 Desember 1966. Begitu pula pada plakat lainnya. Selain itu terdapat satu plakat besar di bagian dalam bangunan makam. Pada plakat yang berbaring itu tertulis nama Maria Giuseppa Ursone dengan keterangan lahir di Italia 23 April 1839 wafat di Bandoeng 1 September 1897.


 (to be Continue)

sumber & foto  : https://mooibandoeng.wordpress.com/2014/04/29/1269/







3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. om, makam Mausoleum Ursone ini posisinya didalam Ereveld atau diluar ya? Sebelah mana pemakaman kristen? thanx

    BalasHapus
  3. di dalam makam pandu. untuk mengetahui posisi pastinya bisa berkunjung ke sana.

    BalasHapus