Rabu, 25 Maret 2015

sepenggal kisah nama jalan/daerah di Bandung #bagian pertama



    Untuk memudahkan mencari alamat, biasanya orang akan menakan nama sebuah jalan. agar bisa di track alamat yang ia tuju. nah, bicara soal nama jalan ada yang hapal asal usul nama nama jalan di kota Bandung? yuk kita baca sama sama.

Jalan Wastukancana Bandung

     Jl. Wastukancana sering disingkat menjadi Wastu. Nama ini diambil dari nama seorang raja Pajajaran bernama Niskala Wastukancana. Pada saat perang Bubat, Wastukancana masih berumur 9 tahun. Ayah dan kakak Wastukancana, Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka, gugur di medan Bubat. Wastukancana naik tahta saat umurnya 23 tahun. Beliau memegang singgasana Pajajaran selama 103 tahun 6 bulan dan 15 hari.

      Dahulu nama jalan Wastukancana ini adalah Engelbert Van Bevervoordeweg.  Kapten Engelbert van Bevervoorde adalah pelopor dunia penebangan militer Belanda. Beliau meninggal dunia pada tahun 1918 setelah pesawat Glenn Martin yang dikemudikannya jatuh di Bandara Sukamiskin. Untuk mengenang jasanya, pemerintah Belanda membuat patung dirinya pada tahun 1920. Patung tersebut diletakkan di sebuah tikungan jalan yang sekarang adalah Jalan Wastu Kencana. Setelah Indonesia merdeka, patung tersebut dipindahkan ke Museum Bronbeek di Arnhem, Belanda

Jalan Siliwangi Bandung

       Jalan ini dahulu bernama Dr. De Greerweg. Kata Siliwangi diambil dari seorang tokoh mitologis dan legendaris dalam satra dan sejarah Sunda, yaitu Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi adalah raja Pajajaran yang terkenal karena kepemimpinannya dapat menjadikan masyarakat Pajajaran yang sejahtera, adil dan makmur. Jalan Siliwangi dibangun untuk memperlancar hubungan antara bagian barat dan timur kota Bandung. Pemberian nama Siliwangi dilakukan untuk mengenang tokoh bersejarah tersebut. (sumber : Buku TOPONIMI Kota Bandung oleh T. Bachtiar dkk) di jalan ini terdapat mural terpanjang di Indonesia hasil karya teman-teman dari Seni Rupa ITB. Kawasan jalan Siliwangi masih dirimbuni pepohonan yang besar dan tua. 
 
Jalan Banceuy di Bandung

       Banceuy adalah nama jalan di kota Bandung yang perpotongannya dari jalan Asia Afrika (salah satunya).    Dalam Kamus Umum Basa Sunda (KKUBS), Banceuy diartikan sebagai kampung yang bersatu dengan istal (kandang kuda). Kampung disini artinya tempat tinggal pera pengurus kuda (dan keretanya). Dengan demikian penamaan daerah ini dilakukan atau diadaptasi berdasarkan fenomena sosiologis. Yaitu kondisi yang pernah terjadi di daerah tersebut berkenaan pula dengan hal-hal yang pernah dialami oleh masyarakat.

    Kawasan Banceuy dulu pernah dijadikan tempat peristirahatan dan tempat mengganti kuda, khususnya untuk keperluan transportasi dan penyampaian benda-benda pos. Dahulu surat dikirim dengan menggunakan jasa transportasi kuda. untuk pengiriman jarak jauh tentu tidak cukup hanya dengan menggunakan kuda yang itu-itu saja. Tetapi harus diganti. Nah di Banceuy-lah tempat ganti kuda ini.

       Dahulu pula di daerah ini terdapat sebuah loji (penjara) yang bersebelahan dengan kandang kuda. Penjara Banceuy namanya. Pemerintah kolonial penah memenjarakan Soekarno disini. Sel tempat Soekarno dikurung 'dimuseum'kan, sementara bangunan penjara yang lain telah dirobohkan dan sekarang jadi ruko. Karena lokasinya yang bersebelahan dengan kandang kuda, maka daerah ini pun pernah disebut Loji Banceuy.Banceuy nama asal jalannya adalah bantjeuyweg dan diresmikan pemerintah kolonial pada tahun 1871. Sekarang jadi jalan Banceuy.
 
Jalan Buah Batu Bandung

        sebagaimana kita ketahui, Bandung itu dahulunya adalah sebuah danau yang sangat luas. Seiring berjalannya waktu, air danau ini menyusut dan bermunculanlah sembulan-sembulan daratan yang diselingi beberapa cekungan yang masih tergenang air. Diantara sekian jumlah cekungan air, terdapat sebuah telaga yang banyak mengandung bebatuan. Di tepi telaga tersebut banyak terdapat pohon mangga (Sunda : buah). Melihat keadaan seperti itu, masyarakat yang tinggal disekitarnya secara spontan menyebut daerahnya menjadi Buah Batu. Sekarang daerah ini jadi kawasan yang ramai. Masyarakat Bandung menyebut Buah Batu jadi Bubat.

Jalan Cihampelas Bandung
       Salah satu jalan yang paling banyak menampung wisatawan lokal dan internasional. Jalan Cihampelas. Pola penamaan jalan ini terbentuk melalui dua aspek : Hidrologis dan biologis. Cihampelas berasal dari gabungan dua kata.
1. Ci = Cai, yang artinya air (Sunda)
2. Hampelas = Nama jenis pohon yang daunnya kasar, seperti kertas amril (ampelas) yang digunakan untuk menggosok atau menghaluskan besi dan kayu. Dengan demikian, Cihampelas jika diartikan secara bebas dapat memiliki dua pengertian. Pertama, air yang memiliki khasiat untuk menghaluskan kulit atau membersihkan hal lainnya. Kedua, sebuah daerah aliran sungai yang disekitarnya terdapat banyak pohon Hampelas.

Asal Usul Jalan Lengkong Bandung
        Jalan yang pada masa pemerintahan kolonial bernama Groote Lengkong ini mengandung arti "teluk". Kawasan ini pada jaman dahulu merupakan sebuah teluk yang besar (hal ini berkaitan dengan asal muasal Bandung sebagai sebuah danau raksasa, danau purba). Ketika danau Bandung surut, ada beberapa wilayah yang masih tergenang air. Satu diantaranya disebut Lengkong.

Asal Usul Grootepostweg alias Jl. Asia Afrika
        Jalan yang pada saat itu disebut sebagai Groote Postweg (groote = great = besar, post = pos, weg = jalan) ini membentang sepanjang 1.000 km melintasi pulau jawa dan menelan nyawa 30.000 ‘koeli’ pribumi. Bayangkan kalau diambil rata-rata berarti setiap 1 km dikorbankan nyawa 30 pribumi untuk pembuatan jalan ini, miris enggak sih? Sesudah itu, ternyata fungsi Groote Postweg yang utama ini ternyata gagal dicapai, karena akhirnya Belanda menyerah pada Inggris setelah diserang melalui Pelabuhan Semarang di tahun 1811.
 
       Jalan yang dibuat dengan pengorbanan besar itu akhirnya membawa hikmah juga, banyak hal berawal dari terciptanya Groote Postweg ini. Diantaranya kelahiran kota Bandung Modern. Karena memang Bandung yang kita kenal sekarang ini konon katanya direlokasikan dari lokasi sebelumnya (Dayeuh Kolot sekarang, dayeuh = kota, kolot = tua) atas permintaan Daendles kepada bupati Bandung Wiranatakusumah II. Kenapa harus dipindahkan? Karena rencana pembangunan jalan Groote Postweg di daerah priangan ternyata memiliki selisih jarak sekitar 11 km dari lokasi kabupaten Bandung pada saat itu, yang berlokasi di sekitar dayeuh kolot.
 
Jalan Gatot Subroto
     Jl. Gatot Subroto,  dulu bernama  Jl. Papandayan dan Jl. Pelajar Pejuang 45 dulunya bernama Jl. Tangkuban Perahu. Namun menurut kisah, orang orang pemerintahan Bandung jaman dulu sempat bingung karena Tangkuban Prahu dan Papandayan tidak terletak di kota Bandung. sehingga nama jalan tersebut mengalami pergantian.
 
Daerah Cikudapateuh
     Cikudapateuh merupakan nama dari istal kuda (dalam bahasa Sunda disebut "banceuy") yang khusus menampung kuda-kuda cacat karena dalam bahasa Sunda "pateuh" memiliki arti cacat yang biasanya diakibatkan karena patah tulang. Sebagai pengetahuan tambahan, banceuy biasanya dikelola oleh warga Tionghoa dan di sekitar banceuy selalu terdapat tempat istirahat atau pesanggrahan. Setelah beristirahat, pengendara tidak akan menggunakan kuda yang sama, oleh karena itu perlu dilakukan pemisahan antara kuda cacat dan kuda sehat.
 
 
sumber :
http://www.bandung.eu/2011/11/asal-mula-nama-nama-jalan-di-bandung.html
http://mynameisnia.blogspot.com/2013/01/menjelajah-karees-cikudapateuh.html











1 komentar:

  1. terima kasih atas informasinya ya juragan. kunjung balik
    ajiartikel.com

    BalasHapus