Selasa, 24 Maret 2015

Javasche bank, bank bersejarah di kota Bandung tempo dulu



      
        De Javasche Bank didirikan tahun 1828 dalam bentuk Perseroan Terbatas (N.V. atau Naamlooze Vennootschap) dan pada tahun itu juga mendapatkan hak octrooi sebagai bank sirkulasi. Bank ini didirikan berdasarkan perintah Raja Willem I, konsepsinya ditangani oleh Direktur Daerah Jajahan, J.C. Baud, dan Direktur Urusan Hindia Belanda dan Nederlandsche Handel-Mij, Schimmelpenninck. Pembentukannya dilakukan oleh Komisaris Jendral Hindia Belanda, Leonard Pierre Joseph Burgraaf du Bus de Gisignies.

       Sebagai kantor pertama digunakan gedung Firma MacQuoid Davidson & Co di Jakarta-Kota. Sampai sekarang gedung ini masih dipergunakan sebagai kantor Bank Indonesia. Presiden pertamanya adalah C.H.R. de Haan dan sekretaris C.J. Smulders.

       Setahun setelah berdirinya, de Javasche Bank membuka cabang di Semarang dan di Surabaya, namun perlu 35 tahun sebelum membuka cabang berikutnya di Padang dan kemudian di Makassar (1864). Dalam 125 tahun perjalanannya, de Javasche Bank telah membuka 23 kantor cabang yang tersebar di 4 pulau, Jawa, Sumatra, Kalimanta, dan Sulawesi, serta sebuah cabang di Amsterdam, Belanda.


        Menurut buku Bank Indonesia dalam Kilasan Sejarah Bangsa (Prof. M. Dawam Raharjo, 1995), satu-satunya cabang de Javasche Bank yang didirikan tidak dengan dasar pertimbangan usaha perbankan dan juga tidak karena alasan kebijaksanaan ekonomi pemerintah kolonial, adalah kantor cabang Bandung. Kantor cabang ini didirikan di Landraadweg (sekarang Jl. Perintis Kemerdekaan) dan mulai beroperasi pada 30 Juni 1909. Sebenarnya kantor cabang Bandung sudah direncanakan pendiriannya pada tahun 1901 sebagai upaya mencari tempat yang lebih aman untuk menyelamatkan kekayaan de Javasche Bank dari ancaman Perang Boer di Afrika Selatan.

      Perang Boer telah menimbulkan kesibukan dan kepanikan di kalangan militer Hindia Belanda. Berbagai siasat peperangan direncanakan untuk menangkal serbuan yang dapat datang sewaktu-waktu. Presiden de Javasche Bank ke-10 saat itu, J. Reysenbach, mencoba mencari jalan keluar terbaik dalam menghadapi situasi dan muncullah ide untuk menjauhkan bank dari daerah pantai dan tempat yang dipilih adalah Bandung. Sebagai cabang, Bandung adalah kantor cabang yang ke-15.

    Karena bukan dengan pertimbangan keuntungan, direksi de Javasche Bank mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda agar bisa mendapatkan hibah sebidang tanah sebagai hak milik untuk lokasi pembangunan gedung bank. Tahun 1906 keluar surat Gubernur Jendral yang berisi penyerahan sebidang tanah dengan luas 10.460 meter persegi di desa Kejaksan Girang tanpa penggantian biaya dengan syarat di situ khusus untuk gedung kantor. Lokasi lahan ini berada di Residentie Preanger Regentschapen, Bestuur Afdeling en Hoofdplaats Bandoeng, Disctrict Oedjoeng Beroeng.



     Rencana pendirian de Javasche Bank cabang Bandung dilanjutkan oleh presiden ke-11, G. Vissering (1906-1912). Pada tanggal 30 Juni 1909 kantor cabang telah dibuka dengan pimpinan sementara dipegang oleh A.M. Meertens yang sebelumnya pemegang buku dan pemimpin cabang kantor Yogyakarta dan Solo. Dari laporan perjalanan Direktur de Javasche Bank, E.A. Zeilinga Azn, dapat diketahui bahwa cabang Bandung ini menempati persil sewaan dari Firma van Arcken & Co yang terletak di Bragaweg, suatu pusat kegiatan perdagangan. Gedung kantor permanen mulai dibangun pada tahun 1915 dan selesai pada tanggal 5 Mei 1918.
  
      Pada masa presiden de Javasche Bank ke-14 (1929-1941) dipegang oleh Dr. G.G. van Buttinga Wichers, dirancang sebuah khazanah di samping khazanah yang sudah ada dan disebut sebagai “khazanah perang”. Pembangunan khazanah ini berbarengan dengan renovasi rumah dinas pemimpin cabang dan seluruhnya dapat selesai pada 5 Mei 1938. Sebuah prasasti peresmian masih menempel pada dinding khazanah. Prasasti tersebut bertanggal 19 Maret 1939 dan menyebut nama putra Buttingha Wichers yang masih berusia 7 tahun, yaitu Gerard Gilles van Buttingha Wichers.




        Berdasarkan keputusan dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, de Javasche Bank ditunjuk sebagai bank sentral. Pada tahun 1951 dibentuk Panitia Nasionalisasi de Javasche Bank dan menunjuk Sjafruddin Prawiranegara sebagai presidennya menggantikan Dr. A. Houwink yang mengundurkan diri. Dalam peringatan 125 tahun de Javasche Bank, 24 Januari 1953, Wakil Presiden Moh. Hatta mengatakan bahwa bank ini akan ikut menyelenggarakan kebijaksanaan moneter pemerintah dan akan aktif mempengaruhi perkembangan perekonomian dalam masyarakat. Kemudian lahirlah Bank Indonesia sebagai bank sentral pada tanggal 1 Juli 1953.

      Gedung de Javasche Bank yang terletak di ujung utara Jl. Braga sekarang dibangun dengan arsitektur bergaya neo-classcics atau ecclecticism berdasarkan rancangan biro arsitek Hulswit, Fermont & (Edward) Cuypers. Bentuk bangunan yang megah dengan pintu utama yang tinggi memang sedap dipandang oleh siapapun yang lewat. Bila berhenti sejenak mengamati detail bangunan, langsung terlihat kekayaan ornamen etnik Nusantara hadir di banyak sudut bangunan yang masih tampak sangat kokoh ini. Gedung Bank Indonesia termasuk salah satu dari 100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung yang tercantum dalam Peraturan Daerah No.19 Tahun 2009.




Sumber :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/04/bank-indonesia-dh-de-javasche-bank/
https://abualbanie.wordpress.com/2014/04/15/de-javasche-bank-riwayatmu-kini/

foto :
https://historicalbuildingsbdg.wordpress.com/38-2/














Tidak ada komentar:

Posting Komentar