Senin, 16 Februari 2015

Cikal Bakal Sebuah Kota bernama Bandung


peta negri bandung tempo dulu sumber : http://celine.blogdetik.com/tag/tempo-dulu/page/8/

       Deandels pernah berkata sambil menancapkan sebuah tongkat kayu dan berkata "Coba usahakan, bila aku datang kembali ke tempat ini, telah dibangun sebuah kota".


      Sebuah adegan yang menjadi cikal bakal lahirnya sebuah kota. semejak itu maka ramailah pembangunan dimulai. Pada awalnya semua bermuara dari jalan raya post yang dibuat dari anyer sampai panarukan oleh deandels. bandung, sebuah kota yang sekarang Heurin ku tangtung, yang menjadi salah satu tujuan pelancong dari berbagai penjuru, adakah para generasi sekarang mengetahui cikal bakal atau asal usul kota tersebut? mari kita simak cerita berikut ini.

      Bandung pada jaman dahulu disebut sebagai daerah terra incognita atau daerah tak bertuan yang  jadi sarang pemberontak atau tempat ekstremes-ekstremes yang sewaktu-waktu bisa menyerbu dan membahayakan kedudukan Kompeni Belanda  di Batavia. Dikutip dari www.infobdg.com/v2/the-story-of-paradise-in-exille/ Kota Bandung, kata Prof. Dr. E.C. Godee Molsbergen dalam “landsarchinaris” (Arsip Negara), pertama kali ditemukan seorang Mardijker bernama Juliaen de Silva dengan nama Negorij Bandoeng atau West Oedjoeng Beroeng. Konon, waktu itu cuma ada 25-30 rumah. Tapi pada abad ke-17, orang pribumi sering menyebutnya Tatar Ukur dengan penguasa terkenal Wangsanata alias Dipati Ukur yang kemudian hari diabadikan menjadi nama sebuah daerah di Bandung.

Groote Post Weg atau jalan raya post anyer sampai panarukan  Sumber : google


Priangan Tempo Dulu dilihat dari arah sindang laya


      Kembali kepada cerita mengenai kedatangan Si Mardijker Juliaen de Silva muncul, Wangsanata meningkatkan pengamanannya. “Jangan-jangan si Juliaen ini teh antek setianya Kompeni,” ujarnya. Sejak de Siva tiba, Kompeni seringkali mengintip Tatar Ukur. Jangan-jangan ada tindakan subversif terhadap Kompeni. Sampai pada th 1712 Abraham van Riebeek cucu dari cape koloni di Afrika Selatan mendarat di Pelabuhan Ratu. Dia kelak menjadi van Riebeek pebisnis kopi di Bandung. Dia juga "ngahaja ngajugjug" ke Gunung Papandayan untuk mendapatkan belerang sebagai campuran untuk Gunpowder atau bedil sundut (Senjata Api). Sampai kemudian ia meninggal di puncak Gunung Tangkuban Parahu pada 13 November 1713.

      Dari catatan Riebeek ini, Kompeni melihat potensi besar dari Negorij Bandoeng. Lalu dikirimlah si Kopral Arie Top (sepangkat Babinsa sekarang). Maka bisa jadi Kopral Arie Top inilah , orang kulit putih pertama yang jadi Bandoenger. Betul saja, setahun kemudian, warga Bandung bertambah 300% dengan masuknya 3 orang buangan kakak beradik bernama Ronde dan Jan Geysbergen. Kenapa disebut buangan ?. Karena Bandung pada abad 18 masih hutan rimba. Tak heran bila ada sebutan alas gung liwang liwung, top badak top maung. Jalmo moro, jalmo mati! Karena yang namanya Situ Hiang atau Danau Bandung, airnya masih menggenangi beberapa tempat di Tatar Bandung yang merupakan danau-danau kecil. Sedangkan lahan-lahan lainnya berpaya-paya. Makanya, konon ketika ada Kopral Kompeni Belanda yang suka menipu dan korupsi, dia dibuang juga ke “neraka” Bandung ini.

Lembang tempo dulu  sumber : www.delcampe.net
       
       Tapi dasar si tukang seleweng ini ternyata pintar dan cerdik, dia malah jadi pengusaha penggergajian kayu. Apalagi saat itu, tatangkalan pating ngaleugeujeur di unggal tempat (pepohonan rimbun disetiap tempat). Wajarlah bila awal abad ke-18 Bandung ini disebut “Paradise in Exille” atau “Sorga dalam Pembuangan”. Pada abad ini, Negorij Bandoeng sudah punya jalan setapak yang dapat dilewati kuda dan menghubungkan Bandung-Bogor-Batavia. Sehingga pada 1786 Piter Engelhard membuka kebun kopi di lereng selatan Gunung Tangkuban Parahu. Hasilnya sangat memuaskan. Sedangkan yang ngageugeuh selanjutnya adalah Herman Willem Daendels. Ia menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1811 dan membangun jalan berkilo-kilo meter. Daendels mendapat julukan “Ijzeren Marschalk” (Marsekal baja) yang oleh warga pribumi disebut “Mas Galak”.

Priangan Tempo dulu  Sumber : Google

        Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Kota Bandung dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels ataupun pihak kerajaan Belanda, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung. Berdasarkan data dari berbagai sumber, pembangunan Kota Bandung sepenuhnya dilakukan oleh sejumlah rakyat Bandung dibawah pimpinan Bupati R.A. Wiranatakusumah II. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa bupati R.A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) Kota Bandung.

            Pada awalnya Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) kira-kira 11 kilometer ke arah Selatan dari pusat kota Bandung sekarang. Ketika kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati ke-6, yakni R.A Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki “Dalem Kaum I”, kekuasaan di Nusantara beralih dari Kompeni ke Pemerintahan hindia Belanda, dengan gubernur jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811). Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) dari Anyer di ujung barat Jawa Barat ke Panarukan di ujung timur Jawa timur (kira-kira 1000 km). Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.

      Mengapa Daendels begitu ngotot untuk memindahkan ibu kota tersebut? Karena Daendels menginginkan agar rentang kendali terhadap Kabupaten Bandung lebih mudah, terutama setelah selesainya Jalan Raya Pos. Sementara itu, ibu kota Parakanmuncang yang posisinya sudah berdekatan dengan jalan raya pos, namun terlalu dekat dengan ibu kota Kabupaten Bandung yang baru, letaknya harus digeser ke arah timur laut dari posisi semula yaitu ke Anawadak, Tanjungsari sekarang.

          Dengan kondisi saat itu, Karapyak dianggap terlalu jauh dari rentang kendali karena jauh di selatan dari jalan raya pos. Jalan itu semula berupa jalan sebahu yang sudah lama ada, yang menjadi jalan penghubung antara pusat-pusat kerajaan sebelumnya. Pada 1809, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mulai memperlebar dan mengeraskan jalan sebahu itu menjadi jalan yang bisa dilalui kereta pos yang menghubungkan kota-kota di Pulau Jawa dari Anyer hingga Panarukan sebagai upaya untuk pengamanan Pulau Jawa dari serangan Inggris.

           Sekitar akhir tahun 1808/awal tahun 1809, bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekali lahan bakal ibukota baru. Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampur Bogor (Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang). Daendels sudah ingin segera memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung sehingga ketika meresmikan Jembatan Cikapundung di dekat gedung PLN sekarang, dan deandels lah orang pertama yang menyebrangi jembatan itu untuk pertama kalinya. Dengan penuh  kesombongan Daendels menancapkan tongkat dan setengah mengancam Bupati Kabupaten Bandung sambil berkata “Zorg, dats als ik terug kom hier een staad is gebiuwd!” yang mempunyai arti :  "Coba usahakan, bila aku datang kembali ke tempat ini, telah dibangun sebuah kota"



Cihampelas 1910 Sumber : google
       Tidak cukup dengan paksaan itu, untuk menguatkan keinginannya, Herman Willem Daendels pun menulis surat pada 25 Mei 1810, yang bunyinya setelah diterjemahkan oleh Dr. A. Sobana Hardjasaputra adalah sebagai berikut:
Setelah memberitahukan dengan surat kepada penguasa Jakarta dan daerah pedalaman Priangan bahwa ia telah mendengar ketika mengadakan inspeksi yang terakhir bahwa ibu kota Bandung dan Parakanmuncang terletak jauh dari jalan yang baru sehingga pekerjaan pembuatan jalan itu terlambat. Oleh karena itu, diusulkan untuk memindahkan ibu kota tersebut, yaitu (ibu kota) Bandung ke Cikapundung dan (ibu kota) Parakanmuncang ke Anawadak, kedua tempat itu terletak di jalan besar dan selain itu sangat cocok, serta di samping pemindahan yang telah disebutkan juga mengenai beberapa tanam-tanaman akan dapat ditingkatkan karena lahan yang diusulkan menjadi ibu kota dan sekitarnya sangat subur, bilamana keputusan usul mengenai pemindahan ibu kota Bandung ke Cikapundung, dan Parakanmuncang ke Anawadak tersebut diterima, mohon Paduka memberikan otoritas dan perintah yang harus dilaksanakan.

       Di mana tempat yang bernama Anawadak itu? Menurut Dr. A. Sobana Hardjasaputra, Anawadak adalah Tanjungsari sekarang, dan perubahan nama dari Anawadak menjadi Tanjungsari, menurutnya terjadi pada dekade ke-2 abad ke-19, atau pada tahun 1820-an akibat perubahan kondisi alam geografis di daerah Tanjungsari yang dahulu kala merupakan sebuah danau alami yang terbentang gunung, situ dan lahan basah alami tempat habitat itik gunung atau disebut “Anawadak” hidup. Dalam surat itu disebutkan juga tentang keinginan Daendels untuk memindahkan ibu kota Parakanmuncang ke Anawadak karena Parakanmuncang letaknya terlalu berdekatan dengan ibu kota Kabupaten Bandung yang baru. Pindahnya Kabupaten Bandung ke Kota Bandung bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Parakanmuncang. Kedua momentum tersebut dikukuhkan dengan besluit (surat keputusan) tanggal 25 September 1810. Tanggal ini juga merupakan tanggal Surat Keputusan (besluit), maka secara yuridis formal (dejure) ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung. 

      Itulah sebuah perjalanan panjang mengenai sebuha kota yang kita kenal sekarang. perjalanan dari sebuah hutan belantara menjadi kota modern yang maju pesat. Tersimpan sebuah pesan kepada para generasi muda untuk terus mengingat sejarah panjang ini karena tak kenal maka tak sayang. Oleh karna itu sayangilah kotamu dengan mengenali sejarahnya.

suasana Priangan 1920 sumber : http://www.kaskus.co.id/thread/51c473b26112436c6f00000c/koleksi-foto-hitam-putih-indonesia-jaman-hindia-belanda/96

pieterspark atau balaikota sekarang sumber : Google

perekbunan kina di lembang sumber : google


kebun kina di bandung utara sumber : google

daerah Pasar baru belum ada apa apa sumber : google

perkampungan di priangan Sumber : Google 


Kota Bandung tempo dulu sumber : google



sumber :
http://www.infobdg.com/v2/the-story-of-paradise-in-exille/
http://kaskushootthreads.blogspot.com/2014/01/foto-foto-priangan-tempo-doeloe.html
http://wisatatempoduloe.blogspot.com/2011/07/sejarah-dayeuhkolot.html
Google.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar