Minggu, 15 Februari 2015

Stasiun Bandung, awal modernisasi sebuah kota

Stasiun Bandung sekarang sumber foto : http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2010/11/12892695631196276818.jpg


        Naik kereta api..tuuut..tuuut..tuuuuuuuut.... (syair lagu anak)

          Sebuah laguu yang cukup sering kita dengar waktu kita masih kecil. Betapa dekatnya kita dengan nama salah satu alat transportasi tersebut pada waktu itu. dan juga betapa "wah" nya kalo bisa naik kereta pada saat kita masih kecil, well dalam hal ini ketika penulis masih kecil.  Dulu hiburan yang cukup membahagiakan adalah bisa melihat kereta api lewat, persis seperti saat kita melihat pesawat terbang yang melintas diatas kepala waktu masih kecil, pada waktu itu pasti akan berlari lari sambil berteriak "pesawaaaaaaaaaaaat...mintaaa uaaaaaaaang".... sungguh masa kecil yang indah.

           Nah, kembali berbicara mengenai kereta api. Bandung juga memiliki sebuah Stasiun kereta api yang cukup legendaris dan masih berdiri hingga sekarang. Walaupun keberadaannya mulai dikalahkan oleh Travel tapi untuk rute rute jauh (atau juga jarak menengah dan area yang belum tersentuh atau jarang oleh angkutan lainnya) kereta api masih diminati.  

          Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Dulu (1984) karangan Haryoto Kunto yang dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Hall, ide awal pembangunan Stasiun Bandung berkaitan dengan pembukaan perkebunan di Bandung sekitar tahun 1870. Stasiun ini diresmikan pada 17 Mei 1884, ketika masa pemerintahan Bupati Koesoemadilaga dan pada waktu yang sama juga dibuka jalur kereta Batavia - Bandung melalui Bogor dan Cianjur. Di masa itu, para tuan tanah perkebunan (Preangerplanters) menggunakan jalur kereta api untuk mengirimkan hasil perkebunannya ke Batavia dengan lebih cepat. Untuk menampung dan menyimpan hasil perkebunan yang akan diangkut dengan kereta, dibangunlah gudang-gudang penimbunan barang di beberapa lokasi dekat Stasiun Bandung, yaitu Jalan Cibangkong, Jalan Cikuda-Pateuh, daerah Kosambi, Kiaracondong, Braga, Pasirkaliki, Ciroyom, dan Andir. Sesaat setelah peresmian jalur Bandung-Surabaya (1 November 1894), para pemilik pabrik dan perkebunan gula dari Jawa Tengah dan Jawa Timur (Suikerplanters) menyewa gerbong kereta menuju Bandung untuk mengikuti Kongres Pengusaha Perkebunan Gula yang pertama. Kongres tersebut merupakan hasil pertemuan Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula (Bestuur van de Vereniging van Suikerplanters) di Surabaya tahun 1896.


Stasiun Kereta api tempo dulu Sumber foto : https://alampriangan.files.wordpress.com/2010/10/bandung-tempo-doeloe-7-stasiun-bandung.jpg

               Masih dalam laman yang sama, Pada tahun 1909, arsitek FJA Cousin memperluas bangunan lama Stasiun Bandung, salah satunya ditandai dengan hiasan kaca patri pada peron bagian selatan yang bergaya Art Deco. Tahun 1918, stasiun ini menghubungkan Bandung-Rancaekek-Jatinangor-TanjungsariCitali, kemudian setahun kemudian dibangun lintas Bandung-Citereup-Majalaya dan pada jalur yang sama dibangun jalur Citeureup-Banjaran-Pengalengan (1921). Untuk jalur ke perkebunan teh, pada tahun 1918, dibangun jalur Bandung ke Kopo dan kemudian ke Ciwidey (Maret 1921).

           Pada saat peresmian Stasiun Bandung, surat kabar Belanda saat itu, Javabode, menuliskan bahwa masyarakat sekitar merayakannya selama 2 hari berturut-turut. Dulunya, kereta api merupakan sarana transportasi hasil produksi perkebunan Bandung, seperti Kina, Teh, Kopi dan Karet, sehingga pertumbuhan ekonomi di kota tersebut berkembang pesat. Hal ini menyebabkan stasiun ini mendapat penghargaan dari pemerintah kota berupa monumen yang berada tepat di depan stasiun, yaitu di peron selatan (Jalan Stasiun Selatan). Saat itu, tugu tersebut diterangi oleh 1.000 lentera rancangan Ir. EH De Roo. Monumen tersebut telah digantikan oleh monumen replika lokomotif uap seri TC 1008. Pada tahun 1990, dibangun peron utara yang akhirnya dijadikan bagian depan stasiun di Jalan Kebon Kawung.


salah satu foto Stasiun kereta api di Bandung tempo dulu sumber : https://www.flickr.com/photos/12386296@N08/3015314755/
       Stasiun Bandung kemudian membuka jalur transportasi ke Surabaya pada tanggal 1 November 1894. Dengan hadirnya jalur tranportasi ini membuat pemilik perkebunan asal Jawa Tengah dan Jawa Timur bisa berkumpul di Bandung. Salah satu perkumpulan para pengusaha ini terjadi dalam Kongres Pengusaha Perkebunan yang pertama. Kongres ini terjadi setelah pertemuan pengurus besar perkumpulan pengusaha perkebunan gula pada tahun 1896 di Surabaya.

Stasiun kereta api dengan tugunya yang khas sumber : https://pkscicendo.files.wordpress.com/2012/11/stasiun-bandung-tempo-dulu.jpg


stasiun kereta api pada periode awal, jalan akses masih becek sumber foto : http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/galdet.php?id=1&lang=id

kereta api di Bandung tempo dulu sumber : https://www.flickr.com/photos/12386296@N08/sets/72157608790437873/

pembangunan Stasiun padalarang sumber : http://asmianastasia.blogspot.com/2011/06/pembuatan-jalur-kereta-tempo-dulu.html


Stasiun rancaekek tempo dulu sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_spoorwegstation_in_Rantjaekek_TMnr_60052193.jpg
ranca ekek - tanjung sari sumber : http://www.semboyan35.com/showthread.php?tid=1017&pid=199816

Stasiun Padalarang sumber : http://asmianastasia.blogspot.com/2011/06/pembuatan-jalur-kereta-tempo-dulu.html

         Hingga kini stasiun kereta api Bandung masih berdiri dan masih beroperasi melayani para warga atau pelancong yang hendak bepergian. So, sekarang mari kita bepergian dengan mengenang sejarah dari sebuah stasiun yang sudah menjadi saksi sejarah sebuah kota.





sumber :
http://astrijalanjalan.blogspot.com/2015/02/sejarah-stasiun-bandung.htmlhttp://sebandung.com/2014/04/stasiun-hall-bandung/
http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Hall
http://socialstationproject.blogspot.com/2012/09/sejarah-pendek-stasiun-bandung.html




































Tidak ada komentar:

Posting Komentar