Martanagara menunjukkan kemampuan dan pengabdiannya sebagai
bupati dengan melaksanakan banyak pekerjaan dalam mengembangkan
Kabupaten Bandung. Pada tahun pertama kepemimpinannya, Martanagara
mengganti atap-atap rumah penduduk yang menggunakan bahan ilalang dengan
genting. Rumah-rumah di Bandung pada akhir abad ke-19 memang kebanyakan masih
berdinding bilik dengan atap ilalang, hanya sekitar 25% saja yang sudah
menggunakan tembok dan genting. Martanagara mendatangkan beberapa ahli
pembuat bata dan genting dari luar Bandung untuk melatih penduduk agar
mampu membuat genting sendiri.
Salah satu pusat pembuatan genting dan bata itu berada di wilayah
Balubur Hilir yang kemudian bernama Merdika Lio, sesuai dengan aktivitas
di sana. Lio adalah tempat pembakaran untuk membuat genting atau bata,
sedangkan “merdika” atau “merdeka” adalah status para pekerja di lio
tersebut yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Dengan begitu,
nama jalan Merdeka yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda menjadi
jelas tidak mengacu pada kemerdekaan RI, melainkan kepada nama kawasan
permukiman masyarakat pembuat genting ini. Sebuah jalan baru di sebelah
barat Merdikaweg pun diberi nama Nieuw Merdika, belakangan diganti
menjadi Burgermeesterkuhrweg, dan sekarang Jl. Purnawarman.
Martanagara juga mendorong penduduk Bandung untuk melakukan penanaman
singkong secara intensif. Banyak kebun dibuka di wilayah Bandung.
Beberapa sisa rawa ditimbun tanah dan dijadikan area perkebunan, sawah,
atau kolam ikan. Konon saah satu hasil karyanya adalah Situ Saeur. Ia menimbun (disaeur) bekas danau dengan tanah agar dapat dijadikan lahan garapan. Ia juga membangun beberapa jembatan
yang melintasi Ci tarum, mulai dari Cihea, Sapan, sampai Majalaya, dan
membuat selokan-selokan serta jaringan irigasi di Gunung Halu (Solokan
Dalem).
Di tengah kota Bandung, Martanagara mengerahkan penduduk Lebak Gede
untuk membuat jaringan kanal dengan memanfaatkan aliran air dari sungai
Ci Kapundung. Pada satu titik di sekitar Lebak Gede, dibuat satu
saluran baru ke arah timur sebagai jalan utama kanal menuju kawasan
tengah kota. Aliran baru ini kelak dikenali sebagai sungai Ci Kapayang.
Pada waktu itu R.A.A. Martanagara menjabat menjadi Demang Patih di Mangunreja di daerah tasikmalaya. Bupati yang dikelola oleh menak Bandung sebagai "Dalem Panyelang" ini, adalah keturunan para Bupati Sumedang,
cicit pangeran Kornel (1791-1828). Ayahnya bernama Raden Kusumayuda,
Wedana Cibeureum, sedangkan ibunya Nyi Raden Ayu Tejamirah masih
keturunan para Bupati Bandung R.A.A. Martanagara dilahirkan pada tanggal9 Februari 1845. Jadi, ketika diangkat dengan Besluit tertanggal 7 Juni 1893 menjadi bupati bandung, ia sudah berusia 48 tahun.
https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/12/17/catatan-ci-kapayang-10-11-13/
https://id.wikipedia.org/wiki/Martanegara
Gambling in the US: Is it legal for people to gamble online? - DrmCad
BalasHapusWhile it's illegal for gambling to win real money and win 오산 출장안마 real money, 울산광역 출장안마 online 안동 출장마사지 gambling is not allowed 이천 출장샵 in the US, 공주 출장샵 it's illegal.