Rabu, 21 Januari 2015

Sejarah singkat Gedung sate




    Hai Guys, buat yang asli Bandung atau yang sering mampir ke Bandung atau bahkan yang pernah ke Bandung pasti kenal dong sama gedung satu ini yang sudah jadi icon kota Bandung. Kayaknya kurang lengkap kalo ke Bandung dan enggak mampir buat  foto foto atau sekedar liat liat gedung yang satu ini. Cuma, dari sekian banyak yang udah mampir ke gedung ini ada yang tahu ga sih sejarah gedung ini?

    Gedung sate dikenal dengan ornamen khasnya yang berada dipuncak gedung tersebut yang memang mirip dengan sate. Gedung Sate yang pada masa pemerintahan Hindia Belanda disebut dengan gedung Gouvernements Bedrijven (GB), peletakan batu pertama gedung ini dilakukan oleh Johanna Cathernia Coops, beliau adalah puteri sulung Walikota Kota Bandung pada waktu itu, bapak B.Coops dan Petronella Roelofsen mewakili Gubernur Jenderal dari Batavia (atau Jakarta sekarang) J.P. Graaf Van Linburg Stirum. Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 27 juli 1920. 

    Bicara soal Gedung Sate, Gedung sate atau  gedung Gouvernements Bedrijven ini dirancang oleh tim yang terdiri dari Ir. J. Gerbener, juga arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks serta pihak Gemeente van Bandoeng (Gementee itu sebutan untuk pemerintah kota), diketuai Kol. Pur. VL. Slors dengan melibatkan 2000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat, atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton, dibantu tukang batu, kuli aduk dan peladen yang berasal dari penduduk kampung Sekeloa, KAmpung Coblong Dago, KAmpung Gandok, dan kampung Cibarengkok yang sebelumnya mereka menggarap Gedong Sirap (Kampus ITB) dan Gedong Papak (Sebutan untuk Balai Kota Bandung tempo dulu). 

     

       Arsitektur Gedung Sate merupakan hasil karya arsitek Ir. J.Gerber dan kelompoknya yang tidak terlepas dari masukan maestro arsitek belanda Dr.Hendrik Petrus Berlage, yang bernuansakan wajah arsitektur tradisional Nusantara. Banyak kalangan arsitek dan ahli bangunan menyatakan Gedung Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona dengan gaya arsitektur unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa, (Indo Europeeschen architectuur stijl). Beberapa pendapat tentang megahnya Gedung Sate diantaranya Cor Pashier dan jan Wittenberg, dua arsitek Belanda, yang mengatakan "langgam arsitektur Gedung Sate adalah gaya hasil eksperimen sang arsitek yang mengarah pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa". D.Ruhl dalam bukunya Bandoeng en haar Hoogvlakte 1952, mengatakan "Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia".

       
        Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m².Gerber sendiri memadukan beberapa aliran arsitektur ke dalam rancangannya. Untuk jendela, Gerber mengambil tema Moor Spanyol, sedangkan untuk bangunannya dalah Rennaisance Italia. Khusus untuk menara, Gerber memasukkan aliran Asia, yaitu gaya atap pura Bali atau pagoda di Thailand. Di puncaknya terdapat "tusuk sate" dengan 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden jumlah tersebut adalah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate ini, nah sekarang mulai paham ya arti dari tusuk sate dan "sate" nya yang berjumlah 6 itu? hehehe.




       Fasade (tampak depan) Gedung Sate ternyata sangat diperhitungkan oleh para arsitekturnya. Dengan mengikuti sumbu poros utara-selatan (yang juga diterapkan di Gedung Pakuan, yang menghadap Gunung Malabar di selatan), Gedung Sate justru sengaja dibangun menghadap Gunung tangkuban perahu di sebelah utara guys. Dalam perjalanannya semula diperuntukkan bagi Departemen Lalulintas dan Pekerjaan Umum, bahkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda setelah Batavia dianggap sudah tidak memenuhi syarat sebagai pusat pemerintahan karena perkembangannya, sehingga digunakan oleh Jawatan Pekerjaan Umum. Tanggal 3 desember 1945 terjadi peristiwa yang memakan korban tujuh orang pemuda yang mempertahankan Gedung Sate dari serangan pasukan Gurkha. Untuk mengenang ke tujuh pemuda itu, dibuatkan tugu dari batu yang diletakkan di belakang halaman Gedung Sate. Atas perintah Menteri Pekerjaan Umum pada tanggal 3 Desember 1970 Tugu tersebut dipindahkan ke halaman depan Gedung Sate. Konon ada tersiar kisah mistis mengenai tugu batu ini. 



        Gedung Sate telah menjadi salah satu tujuan obyek wisata di kota Bandung. Khusus wisatawan manca negara banyak dari mereka yang sengaja berkunjung karena memiliki keterkaitan emosi maupun history pada Gedung ini. Keterkaitan emosi dan history ini mungkin akan terasa lebih lengkap bila menaiki anak tangga satu per satu yang tersedia menuju menara Gedung Sate. Ada 6 tangga yang harus dilalui dengan masing-masing 10 anak tangga yang harus dinaiki. 

       Nah, mengingat perjalanan panjang yang sudah di tempuh oleh gedung ini maka sudah seharusnya kita sebagai warga kota Bandung untuk menjaga dan melestarikan gedung peninggalan bersejarah yang luar biasa ini. Sedikitnya dengan tulisan ini kita bisa lebih mengenal mengenai Gedung Sate dari mulai asal usul gedung tersebut mengapa bernama sate dan lain sebagainya, tidak hanya digunakan sebagi temat nongkrong atau foto foto saja.

      


sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Sate
               http://www.sobatpetualang.com/2013/12/sejarah-berdirinya-gedung-sate-di.html



   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar