Kamis, 12 Februari 2015

Pasar baru, Pasar Terbersih Bandung Tempo Dulu

     

     Suka belanja di Bandung?  Pasti kenal dong dengan salah satu pasar yang ada di Bandung. Yak, namanya Pasar Baru. Meski sudah berusia cukup lama namun masih saja di bilang Baru..hehehe lokasi Pasar Baru Bandung terletak di Jalan Oto Iskandar Dinata. Pada jaman Belanda pasar baru disebut dengan nama Pasar Baroeweg.

     Pasar Baru boleh dibilang pasar tertua di Kota Bandung yang masih berdiri sampai sekarang. Sebelumnya, pasar baru yang masih ada saat ini sebetulnya merupakan relokasi pengganti pasar lama di daerah Ciguriang (sekitar pertokoan Kings, atau Jalan Kepatihan sekarang) yang terbakar akibat kerusuhan Munada pada tahun 1842. Dan di sekitar kawasan Kepatihan memang masih dapat ditemukan ruas jalan kecil bernama Ciguriang. 

     Pasar Ciguriang terbakar habis pada hari Jumat dinihari, 26 Desember 1845. Akibatnya, selama puluhan tahun kota Bandung tidak memiliki pasar utama sampai kemudian lahirnya pemerintahan kota yang dalam waktu cepat membangun berbagai fasilitas umum, termasuk mendirikan sebuah pasar di sebelah barat Alun alun Kota Bandung. Masyarakat menyebutnya Pasar Baru mengingat bahwa pasar tersebut merupakan pasar yang baru saja di bangun untuk warga kota.






Pasar Baru tahun 1880-an sumber : https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/03/pasar-baru-bandung-1/


    Peristiwa terbakarnya Pasar Ciguriang ternyata bukanlah peristiwa kebakaran biasa. Di balik terbakarnya pasar tersebut tersimpan sebuah kisah persekongkolan dan kejahatan yang melibatkan tokoh-tokoh penting dan terhormat di kota Bandung saat itu. Tokoh yang paling terkenal di balik terbakarnya Pasar Ciguriang, dikenal dengan nama Munada, dan siapakah itu munada?

  Munada adalah seorang Cina-Islam dari Kudus yang tinggal di Cianjur. Setelah pindah ke Bandung, dia mendapatkan kepercayaan dari Asisten Residen saat itu, Nagel, untuk pengadaan alat transportasi kereta angkutan.

   Namun ternyata Munada berperangai buruk dan suka berfoya foya. Ia kemudian diketahui suka menyelewengkan uang kepercayaan dari Nagel yang ia pergunakan untuk berfoya-foya, mabuk, dan main perempuan. Hal ini membuat geram Nagel,  hingga akhirnya dia dipenjarakan oleh Nagel. Akibatnya Munada mendendam, dan tak pelak Munada pun sakit hati. Setelah bebas, ia bersekongkol dengan Rd. Naranata, mantan jaksa Kabupaten Bandung saat itu yang dipecat oleh Wiranatakusumah III dan Nagel, sang asisten residen, akibat dianggap terlalu angkuh dan kasar. Mereka menyusun strategi untuk membunuh Nagel, dan Pasar Ciguriang dipilih sebagai lokasi aksi mereka.

     Sekitar tanggal 24-25 November 1945, Pasar Ciguriang dibakar guna memancing kedatangan Nagel. Benar saja, tak lama setelah kebakaran terjadi, Nagel datang bersama bupati. Ditengah suasana panik dan hiruk pikuk akibat kebakaran, Munada yang membaur di dalam keramaian tersebut menghunuskan pisau ke dada Nagel hingga terluka parah. Nagel pun tersungkur dan meninggal keesokan harinya dan Munada pun berhasil kabur dari tengah keramaian.

    Dampak dari aksi Munada dan Rd. Naranata sudah bisa ditebak, Pasar Ciguriang kemudian rata dengan tanah. Dalam jangka waktu yang cukup lama Bandung tidak memiliki pasar induk, dan kemudian kegiatan perdagangan dialihkan ke pasar semi permanen yang terletak di PangeranSumedangweg, yang kelak berubah nama menjadi Jalan Otto Iskandardinata. (Sebagaimana dikutip dari tulisan milik M. Ryzki Wiryawan)

      Akibat dari kejadian tersebut para pedagang tercerai berai dikarenakan tidak memiliki tempat khusus untuk berjualan. Untuk menampung para pedagang yang tercerai-berai serta aktivitas pasar yang tidak teratur, maka pada tahun 1884 lokasi penampungan baru mulai dibuka di sisi barat kawasan Pecinan. Kawasan inilah yang kemudian hari dikenal sebagai kawasan Pasar Baru.Pada masa ini sebetulnya sudah ada beberapa usaha perdagangan yang tersebar di sekitar Pasar Baru. Sebagian dari generasi penerus pertokoan ini masih melanjutkan usaha dagang kakek-buyutnya sampai sekarang. Beberapa nama pengusaha terkenal dari masa lalu itu sekarang terabadikan menjadi nama-nama jalan di sekitaran Pasar Baru (H. Basar, Ence Ajis, H. Durasid, H. Pahruroji, Soeniaradja, dll.


Pasar baru denga view Toko ABC yang legendaris


        Pada tahun 1906 barulah didirikan bangunan baru yang semi permanen. Pada bangunan baru ini, jajaran pertokoan berada di bagian paling depan dan di belakangnya diisi oleh los-los pedagang. Bangunan ini kemudian dikembangkan pada tahun 1926 dengan dibangunnya kompleks pasar permanen yang lebih luas dan teratur. Pada bangunan baru ini terdapat dua buah pos yang mengapit jalan masuk menuju kompleks Pasar Baru. Selain sebagai gerbang masuk, kedua pos ini dipergunakan juga sebagai Kantor Pengelola Pasar dan Pos Jaga Polisi. Atap limas pada kedua pos ini sangat unik karena memakai bahan lembaran karet semacam ebonit yang dipasang secara diagonal dan hanya digunakan untuk menara pasar. Sayangnya ciri khas menara dan bahan atap itu sudah tidak bisa lagi ditemukan di Bandung akibat dari program peremajaan pasar kota Bandung pada tahun 1970an.


pintu Masuk pasar Baru tempo dulu sekitar tahun 1930 an
       Pasar Baru Bandung menjadi kebanggaan warga kota karena meraih predikat sebagai pasar terbersih dan paling teratur se-Hindia Belanda pada tahun 1935. Perombakan yang dilakukan pada tahun 1970an membuat bangunan pasar menjadi gedung modern bertingkat yang tidak menyisakan lagi bentuk bangunan lamanya, walaupun konsep pasar tradisional masih dapat dipertahankan. Setelah ini perombakan berikutnya dilakukan pada tahun 2001 hingga menjadi bentuknya yang dapat kita lihat sekarang.
     

suasana Pasar baru bandung tempo dulu

suasana Pasar baru bandung tempo dulu

       Selain kisah mengenai Munada ada banyak kisah menarik di balik Pasar Baru yang masih bisa kita gali. Di antaranya adalah kisah para saudagar Bandung tempo dulu yang tinggal dan menjalankan usaha dagangnya di kawasan ini. Mereka adalah para saudagar yang berasal dari Sunda, Jawa, Palembang, bahkan India dan Arab. Pada umumnya masyarakat menyebut para saudagar Pasar Baru ini dengan sebutan “Orang Pasar”. Salah satu kelompok keluarga besar para saudagar ini mengaku merupakan turunan dari istri ke-4 Pangeran Diponegoro yang dibuktikan dengan pohon silsilah yang masih disimpan oleh salah satu keluarga.

sebuah bangunan yang masih menuliskan tahun pembangunan
     Di sekitar Pasar Baru juga masih tersebar banyak sisa bangunan lama yang menjadi saksi perkembangan Pasar Baru. Kebanyakan bangunan berada dalam kondisi kurang terawat walaupun masih dipakai oleh pemiliknya sebagai rumah tinggal atau toko. Sebagian lainnya malah tampak sangat kumuh seperti menunggu waktu untuk rubuh. Sedikit saja bangunan yang masih terpelihara dengan baik. Bila jeli memperhatikan keadaan sekitar, kita masih bisa menemukan banyak keunikan di kawasan ini seperti, tanda tahun pendirian rumah, plakat nama pemilik rumah ataupun bentuk bangunan yang menyiratkan keadaan masa lalunya. Beberapa tinggalan bangunan bahkan memiliki gaya campuran antara kolonial, Tonghoa dan Islam.

toko babah kuya sekarang  sumber       https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/03/pasar-baru-bandung-1/
     Beberapa toko lainnya juga menyimpan sejarah panjang perkembangan Pasar Baru. Seperti Toko Jamu Babah Kuya. Toko Jamu ini didirikan oleh Tan Sioe How di Jl. Pasar Barat, tahun 1910 (ada kemungkinan juga lebih awal, tahun 1800-an). Belakangan, salah satu keturunan Tan Sioe How membuka toko lainnya dengan nama sama di dekatnya (Jl. Pasar Selatan). Bersama-sama dengan dengan keluarga Achsan, Tan merupakan perintis usaha perdagangan di kawasan yang kemudian hari menjadi Pasar Baru. Julukan Babah Kuya didapatkan Tan dari piaraannya yaitu sejumlah kura-kura yang sekarang ini terpajang di tembok ruang tokonya.


Transaksi yang terjadi di pasar baru tempo dulu

Pasar baru setelah tersentuh Modernnisasi


        Sebagai tujuan wisata kuliner, Pasar Baru tak kurang menariknya. Salah satu usaha yang sudah berlangsung cukup lama adalah Toko Cakue dan Bapia Lie Tjay Tat (sekarang Toko Osin) yang kini berlokasi di Jalan Belakang Pasar. Cakue Pasar Baru ini terkenal karena menggunakan resep tradisional yang masih terus dipertahankan hingga sekarang. Ukuran cakuenya besar-besar dengan rasa yang gurih dan renyah. Selain itu juga tersedia Bubur Kacang Tanah yang unik. Jenis makanan istimewa yang terakhir ini memang tidak terlalu mudah didapatkan di Kota Bandung. Ada juga warung es goyobod dengan nama Goyobod Kuno 1949 di Jalan Pasar Barat. Pengusaha goyobod ini merupakan salah satu keluarga perintis usaha es goyobod di Bandung. Sebagian warga Bandung tentunya juga masih mengingat gado-gado Bi Acim, sate gule Abah Odjie, atau Mie Kocok Subur.

Salah satu toko goyobod tua Sumber : https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/03/pasar-baru-bandung-1/
    Dan sekarang Pasar baru menjadi tempat yang sangat padat dan penuh dengan sesak. Berbagai macam barang banyak ditawarkan orang disana.  Hebatnya tak hanya warga nusantara tapi juga warga negri jiran dari malaysia dan juga singapura berkunjung kesana. nah, sekarang semoga kita tak hanya berkunjung  untuk berbelanja tetapi juga mengetahui akan sejarah yang tersimpan cukup panjang di Pasar Baru Bandung.



sumber :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/14/cerita-munada1/#more-709
https://pasarbarubandung.wordpress.com/halaman-baru/sejarah-pasar-baru-bandung/
Data pribadi M. Ryzki Wiryawan
Sudasono Katam, Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis, (Bandung: 2006) halaman 479
https://aleut.wordpress.com/category/pasar-baru-bandung/
https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/03/pasar-baru-bandung-1/
BANDUNG; Kilas Peristiwa di Mata Filatelis; Sebuah Wisata Sejarah. (Sudarsono Katam Kartodiwirio, 2006)
– Berbagai arsip artikel dari Harian Kompas dan Pikiran Rakyat.
– Berbagai wawancara dengan keluarga Pasar Baru
Catatan : Warung Goyobod Kuno 1949 saat ini sudah berpindah lokasi.





Rabu, 11 Februari 2015

Braga, dari jalan pedati menuju Parijs van java



     Jika ditanya kepada para pelancong mungkin nama jalan Braga akan lebih di ingat oleh mereka terlebih bagi para pelancong luar negri khususnya dari negri belanda. ya, jalan ini sudah menjadi sebuah icon yang kuat bagi kota Bandung. sejarah panjang yang mengikuti liku liku jalan ini dimulai dari sekitar tahun 1808.

      Konon pembuatan jalan sepanjang lebih kurang 700 meter ini  memiliki kaitan dengan pembuatan jalan Anyer-Panarukan oleh Daendels Tahun 1808-1811. Selain itu, juga terkait dengan praktik politik Tanam Paksa yang diberlakukan Belanda dari tahun 1830-1870. Saat itu, ada rencana menjadikan Bandung sebagai ibukota negara. Untuk mempersiapkan segala sesuatunya berbagai bangunan penting dibuat Belanda di kota ini. Salah satu di antaranya adalah rumah pelelangan kopi (coffe per house).Setiap transaksi di rumah pelelangan kopi yang kini menjadi Balai Kota tersebut, kemudian barangnya dikirim melalui Kantor Pos yang letaknya tidak jauh. Untuk mengangkut kopi itulah lalu dibuat jalan tembus yang dinamai Jalan Pedati atau disebut juga Jalan Pedati (Pedatiweg). Jalan Braga saat masih jalan kecil di depan pemukiman yang cukup sunyi  dikenal juga dengan nama Jalan Culik karena terkenal cukup rawan. 

     Muncul pertanyaan kenapa namanya harus jalan pedati? itu dikarenakan jalan tersebut memiliki lebar hanya selebar pedati. Ditambah lagi pada masa itu jalan ini masih belum sebagus sekarang, masih terlihat semit dan becek. Pada tahun 1870-an barulah jalan Pedatiweg mulai mengalami perubahan dengan hadirnya toko kelontong bernama de vries. Toko ini selalu dikunjungi petani Priangan yang kaya raya (Preanger Planters). Para preanger planters tersebut membeli kebutuhan hidup sehari-hari di toko de vries.

toko kelontong J. R. de Vries & Co. di Jalan Braga, supermarket pertama di Bandung (1880) Sumber : Wikipedia

      Tak lama kemudia, perlahan namun pasti Jalan Pedatiweg yang dikenal dengan kumuh dan becek berubah sedikit demi sedikit menjadi jalan yang lebih baik. Nama jalanpun ikut berubah menjadi Braga. nama Braga sendiri entah dari mana asal usulnya, ada yang mengaitkannya dengan nama dewi puisi yaitu Bragi, namun versi yang cukup kuat adalah hadirnya grup Tonil yang bernama braga dijalan ini yang kemudian keberadaan mereka di abadikan menjadi nama jalan ini. dari sebuah sumber dikatakan bahwa pada tahun 1882 seiring dengan pendirian tonil braga oleh Assisten residen Bandung , Pieter Sitjhoff, mengganti nama Pedatiweg menjadi Bragaweg. Namun dari sumber yang lain Nama Braga sendiri sudah ada dari tahun 1810 dan dipopulerkan oleh grup Tonil Braga pada tahun1887 emtah mana yang benar.

    Masyarakat setempat juga memiliki legenda sendiri terhadap nama Braga ini. Menurut Ketua Paguyuban Warga Braga Kota Bandung, David B. Sediono, nama Braga berasal dari kata Sunda Baraga. Baraga itu artinya jalan-jalan menjelajahi Sungai Cikapundung. Kebetulan di dekat Braga sini ada Sungai Cikapundung. Dan masyarakat saat itu suka menghabiskan waktu dengan baraga di Sungai Cikapundung, ungkap David B. Sediono sebagaimana dikutip dari laman http://bumikuningan.blogdetik.com/2012/02/26/sejarah-jalan-braga/

     Kembali kepada pembahasan jalan Braga, seiring dengan perkembangan jaman, maka turut bermunculanlah toko toko exclusive di jalan Braga. sentra perdagangan dan jasa yang diperuntukkan bagi kaum Belanda. Di Jalan Braga inilah sinyo dan nonik Belanda berbelanja dan rendezvous. Tidak sembarang toko dan tempat usaha lainnya yang diijinkan didirikan di Jalan Braga. Butik Au Bon Marche, contohnya, yang hanya menjual pakaian impor dari Paris. Keberadaan butik inilah yang membuat Bandung dijuluki Parisj van Java. Kemudian ada toko jam Stocker yang hanya menjual jam buatan Swiss, toko bunga Van Doup, toko mobil pertama di Hindia Belanda Fuchs & Rents hingga penjahit August Savelco yang menjadi langganan tokoh penting dari JP. Coen hingga Bung Karno.

Braga di awal perkembangannya




Braga pada tempo dulu, bangunan disebelah kanan sekarang adalah gedung Bank jabar
     Jalan Braga menjadi ramai karena banyak usahawan-usahawan terutama berkebangsaan Belanda mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan di kawasan itu seperti toko Onderling Belang. Kemudian pada dasawarsa 1920-1930-an muncul toko-toko dan butik (boutique) pakaian yang mengambil model di kota Paris, Perancis  yang saat itu merupakan kiblat model pakaian di dunia. Dibangunnya gedung Societeit Concordia yang digunakan untuk pertemuan para warga Bandung khususnya kalangan tuan-tuan hartawan, Hotel Savoy Homann, gedung perkantoran dan lain-lain di beberapa blok di sekitar jalan ini juga meningkatkan kemasyhuran dan keramaian jalan ini.

Gedung Societieit concordia (gedung Merdeka/Musium KAA sekarang) pada tahun 1949
        Berbicara mengenai Societeit Concordia, perkumpulan ini didirikan pada Tahun 1870 an, pada awalnya mereka bertempatan di sebuah panggung papan kayu yang kemudian pindah ke ujung jalan Braga atau yang sekarang dikenal sebagai Gedung Merdeka. pada awalnya Gedung tersebut dipergunakan untuk pertemuan dan khotbah bagi penganut Kristen Protestan. Perkumpulan ini sangatlah Exclusive karena anggotanya hanya bagi orang orang tertentu saja, seperti orang murni Eropa, Non eropa yang telah dipersamakan, dan para tokoh pemuka masyarakat saja.

    Namun dibalik perkembangan jalan Braga, tetap saja memiliki sisi buruk dari perkembangannya, yaitu munculnya tempat tempat hiburan malam dan kawasan lampu merah (kawasan remang-remang) di kawasan ini yang membuat Jalan Braga sangat dikenal turis. Dari sinilah istilah kota Bandung sebagai kota kembang mulai dikenal. Sehingga perhimpunan masyarakat warga Bandung saat itu membuat selebaran dan pengumuman agar "Para Tuan-tuan Turis sebaiknya tidak mengunjungi Bandung apabila tidak membawa istri atau meninggalkan istri di rumah".

Braga setelah mengalami perkembangan

       
Toko toko modern di jalan Braga tempo dulu



     Selain toko, dijalan Braga ada sebuah restoran yang cukup terkenal dari jaman dulu hingga sekarang. restoran ini mulai dibuka pada tahun 1918 bertempatan di sisi timur Simpang Braga. Pada tahun 1923, restoran milik L. van Bogerijen ini dipindahkan tepat ke tengah jalan  Braga, saat ini namanya berubah menjadi restoran Braga Permai 

Restoran Maison Bogerijen tempo dulu.
    Pada masa waktu itu, restoran Maison Bogerijen merupakan salah satu restoran paling elite di kota Bandung. Restoran ini juga konon mendapat piagam restu langsung dari Ratu Belanda. Bahkan, Maison Bogerijen merupakan satu-satunya restoran yang menyajikan hidangan istimewa khas kerajaan seperi Koningin Emma Tart dan Wilhelmina Taart. Maison Bogerijen juga memiliki menu paling lengkap. Mulai dari menu utama, es krim, panganan manis, serta aneka roti. Agar tidak ketinggalan zaman, Maison Bogerijen melakukan pemugaran pada tahun 60-an. Pengelola restoran tersebut mengubah total bangunan bergaya Eropa tradisonal Maison Bogerijen menjadi lebih modern.

      Jika kita menyusuri jalan Merdeka ke arah jalan Braga maka tepat di sebelah gedung Bank Mandiri setelah rek kereta api dekat gedung B.I. kita akan menemukan sebuah gedung bernama gedung Landmark. Gedung ini awalnya  adalah sebuah toko buku yang diberi nama Van Dorp. Toko Buku ini berdiri cukup lama yaitu dari sekitar tahun 1922 hingga 1960 setelah Indonesia merdeka. Setelah Van Dorp ditutup, gedung ini sempat diubah menjadi gedung bioskop pada tahun 1970. Dan kini, Gedung Landmark Braga tersebut diubah menjadi layaknya gedung serba guna yang setiap minggunya sering diadakan pameran, seperti pameran buku dan komputer yang selalu ramai oleh pengunjung.
toko buku Van Dorp
    Selain itu ada pula sarana hiburan seperti bioskop di jalan Braga. Bioskop tersebut bernama Majestic, yang dulunya merupakan bioskop Concordia di tahun 1900an awal. Gedung ini dinamakan Concordia karena berada tepat di sebelah gedung Societet Concordia (sekarang menjadi Gedung Merdeka). Bioskop ini merupakan bioskop elit yang hanya dikhususkan untuk kaum elit bahkan mereka memiliki aturan "Verbodden voor Honder en irlander" yang artinya “dilarang masuk bagi anjing dan pribumi”, sungguh sangat kejam.

      Tempat duduknya berundak dan menunjukkan kelas dan harga tiket. Untuk kelas 1 terletak di balkon, kelas 2 terletak bagian bawah belakang, dan kelas 3 di paling depan sehingga mungkin bisa menimbulkan efek pegal-pegal leher. Selain itu tempat duduk laki-laki dan perempuan dipisah, namun pada prakteknya mereka tetap melebur saja.

    Bioskop Concordiodia didirikan pada dekade 1920 an dan selesai tahun 1925. Gedung ini dirancang oleh Wolff Schoemacker dengan gaya arsitekturnya sangat khas yaitu penempatan ornamen nusantara seperti Kala yang terletak di bagian atas. Berbeda dengan Kala yang ada di gedung Landmark, Kala di sini memiliki rahang. Secara keseluruhan, gedung Concordia memiliki bentuk seperti kaleng biskuit atau bilken trommel.

 

DENIS Bank sebelum menjadi Bank Jabar Banten
Selain banguan bangunan tadi terdapt pula sebuah bangunan yang sangat khas di jalan braga. yaitu bangunan Bank Jabar. Bangunan ini dibangun pada tahun 1935-1936 hasil karya arsitek terkemuka Hindia Belanda yaitu Albert Frederik Aalbers (1897-1961). Banguan ini menampilkan gaya arsitektur Art deco berjenis Streamlined moderne. gedung ini kemudian menjadi gedung kantor pusat lembaga keuangan dibawah kepemilikan pemerintah Hindia Belanda sebagai De Eerste nederlandsch indische Spaarkas atau kas Simpanan hindia Belanda yang Pertama yang kemudian disingkat menjadi DENIS Bank.  saat ini DENIS Bank telah berubah menjadi Bank Jabar Banten.


       Dan itulah Sejarah singkat sebuah jalan yang turut mendukung perkembangan Bandung tempo dulu, bagaimana dengan Braga yang sekarang? nama braga masih menjadi bagian yang kuat dimata orang bandung maupun dimata para pelancong. namun sangat disayangkan bahwa saat ini Braga tak sehebat pada awal perkembangannya. Banyak bangunan bangunan bersejarah dengan gaya gaya eropa dirombak dan dirubah menjadi bentuk yang lebih moderen. Semoga para generasi mendatang bisa terus mempertahankan sejarah yang tersimpan dalam sebuah jalan yang menjadi sebuah ikon kota Bandung.




Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Braga
http://wwwsejarahbandung-danny.blogspot.com/p/jalan-braga.html
http://cicipsanacicipsini.blogspot.com/2009/06/maison-bogerijen-dulu-dan-sekarang.html
http://sebandung.com/2014/04/wisata-bandung-tempo-doeloe/
http://mynameisnia.blogspot.com/2012/02/sejarah-di-antara-halaman-buku.html
http://blogketinggalanzaman.blogspot.com/2013/02/bandung-tempo-doeloe-sejarah-seabad.html
http://www.infobdg.com/v2/bioskop-di-bandung-tempo-doeloe/
http://trihariwidodo.blogspot.com/2011/05/bangunan-bandung-tempo-doeloe.html








































Senin, 02 Februari 2015

Alun Alun Bandung, riwayatmu dulu.....

(Alun Alun Bandung sekarang setelah direvitalisasi oleh Walikota Bandung Ridwan kamil)

        Masih menyambung pembicaraan kita kemarin mengenai Masjid Agung Provinsi Jawa Barat atau yang biasa kita sebut Masjid Agung Bandung. tepat di hadapan Masjid tersebut menghampar halaman luas yang dikenal orang orang dengan Alun-Alun Bandung. Seperti yang sudah saya sebutkan dalam posting terdahulu, bahwa tempat ini (Alun-alun, Red) merupakan tempat untuk berkumpul baik itu bersama keluarga, rekan, atau sebagai tempat berjalan jalan sebagai rekreasi.

Alun-alun Bandung tempo dulu
        Alun-alun (dulu ditulis aloen-aloen atau aloon-aloon) merupakan suatu lapangan terbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan dan dapat digunakan kegiatan masyarakat yang beragam.di buat oleh fatahillah, Menurut Van Romondt (Haryoto, 1986:386), pada dasarnya alun-alun itu merupakan halaman depan rumah, namun dalam ukuran yang lebih besar. Penguasa bisa berarti raja, bupati, wedana dan camat bahkan kepala desa yang memiliki halaman paling luas di depan Istana atau pendopo tempat kediamannya, yang dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat sehari-hari dalam ikwal pemerintahan militer, perdagangan, kerajinan dan pendidikan. 

         Lebih jauh Thomas Nix (1949:105-114) menjelaskan bahwa alun-alun merupakan lahan terbuka dan terbentuk dengan membuat jarak antara bangunan-bangunan gedung. Jadi dalam hal ini, bangunan gedung merupakan titik awal dan merupakan hal yang utama bagi terbentuknya alun-alun. Tetapi kalau adanya lahan terbuka yang dibiarkan tersisa dan berupa alun-alun, hal demikian bukan merupakan alun-alun yang sebenarnya. Jadi alun-alun bisa di desa, kecamatan, dan kota maupun pusat kabupaten. Pada awalnya Alun-alun merupakan tempat berlatih perang (gladi yudha) bagi prajurit kerajaan, tempat penyelenggaraan sayembara dan penyampaian titah (sabda) raja kepada kawula (rakyat), pusat perdagangan rakyat, juga hiburan seperti Rampokan macan yaitu acara yang menarik dan paling mendebarkan yaitu dilepaskannya seekor harimau yang dikelilingi oleh prajurit bersenjata.


Alun Alun Bandung pada Tahun 1900 masih berupa lahan kosong
 yang dikelilingi pohon besar dan penuh dengan kabut di pagi hari


          Tentu Alun Alun Kota Bandung yang dulu dikenal orang tua kita tak sama dengan yang kita ketahui sekarang. Wajahnya beberapa kali mengalami perubahan di tangan para pemegang kebijakan. Namun alun alun adalah sebuah ikon atau sebuah tempat yang mencirikan sebuah kota, sehingga keberadaannya Wajib atau mutlak harus ada. nah, bagaimana sebetulnya wajah alun alun Bandung tersebut?

         Mari kita mulai dengan sejarahnya terlebih dulu. Pusat kota atau yang dikenal juga dengan sebutan puseur dayeuh Bandung tempo dulu dicirikan dengan sebidang tanah lapang yang dinamakan alun-alun.  Di sekitarnya terdapat bangunan-bangunan fungsional. Di sebelah selatan terdapat bangunan pendopo kabupaten. Kini bangunan itu dijadikan kediaman resmi wali kota Bandung. Di sebelah barat terdapat bangunan Masjid Agung. Kini namanya Masjid Raya Bandung – Provinsi Jawa Barat. Di sebelah timur terdapat Bale Bandung. Setelah beberapa kali dirombak, kini di atasnya berdiri bangunan tiga lantai yang dijadikan pusat perbelanjaan Palaguna.

 Alun Alun Bandung tempo dulu
      Masih dalam lingkaran pusat kota, di sebelah utara alun-alun terletak penjara Banceuy. Dinamakan demikian karena penjara tersebut terletak di  Jalan Banceuy. Dalam Bahasa Sunda, banceuy sama artinya dengan kampung yang dijadikan kandang kuda (istal), di samping tempat penduduk yang bertugas mengurus kuda penghela. Waktu pertama berdirinya kota Bandung, Kuda merupakan alat Transportasi yang sangat penting yang dipakai untuk mengantarkan surat. Biasanya, dalam jarak tertentu pasti ada kuda pengganti untuk menggantikan kuda pertama. Biasanya berada di pos ganti. Salah satu pos pengganti yang ada di jalan raya pos (Grote Postweg) ada di dekat gedung Kantor Pos Besar Bandung yang sekarang adanya di sebelah jalan raya pos (Grote Postweg) dan Jalan Banceuy.


   kantor pos banceuy jaman dulu        
        Jalan Banceuy sebenarnya awal mula berasal dari nama Oude Kerkhoffweg karena disana pernah dijadikan tempat kuburan China. Sekarang tempat itu dijadikan pusat penjualan suku cadang mobil dan listrik. Alun-alun Bandung yang adanya di sebelah selatan Grote Postweg bisa disebut masih ada, bisa juga disebut tidak ada. Disebut tidak ada karena secara fisik sudah dijadikan plaza Masjid Raya Bandung-Provinsi Jawa Barat. Sebaliknya disebut ada, sebab masyarakat Bandung masih menyebut tempat ini alun-alun.
        

     Alun-alun Bandung tempo doeloe dibangun di depan pendopo kabupaten, sehingga keberadaannya merupakan satu kesatuan dengan Masjid Agung dan bangunan pemerintahan lainnya. Di tempat itu pula masyarakat kota bersosialisasi dan melakukan berbagai aktivitas, serta memanfaatkan sebagai tempat rekreasi. Tanahnya subur dan ditumbuhi rumput hijau. Sisi timur alun-alun dibatasi sepenggal jalan yang dinamakan Jalan Alun-alun Timur. jalan tersebut pernah menjadi tempat mejeng, terutama anak-anak muda. 

        Di sana terdapat tiga buah gedung bioskop yakni, Elita, Oriental dan Varia dengan gaya arsitektur yang unik, gedung Varia sebelumnya merupakan tempat hiburan atau feesterien. Tetapi di lidah penduduk setempat, tempat hiburan itu diucapkan pistren.Tahun 1980-an, bangunan bioskop dan tempat hiburan di sana diratakan dengan tanah. Di atasnya kemudian didirikan bangunan tiga lantai dijadikan pusat perbelanjaan Palaguna. Satu-satunya bangungan gedung bioskop yang masih tersisa hanyalah Radio City yang terletak di ujung selatan Jalan Alun-alun Timur. Namun, sejalan dengan makin suramnya dunia perbioskopan nasional, bangunan bekas bioskop Radio City yang kemudian berubah nama menjadi Dian dan sekarang  dijadikan gelanggang futsal. 

(beberapa bioskop di Kota bandung tempo dulu sumber : https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/24/bioskop-di-bandung/)
       

       Seperti alun-alun di tempat lainnya di  Nusantara, bagian tengah alun-alun Bandung ditanami sepasang pohon beringin yang dilambangkan sebagai pengayom. Sebuah di antaranya dinamakan Wihelmina-boom karena di tanam untuk memperingati pelantikan Ratu Belanda Wihelmina pada tanggal 8 September 1898. Pohon beringin di sebelahnya yang ditanam tahun 1909, dinamakan Juliana-boom untuk memperingati kelahiran Ratu Juliana.



Pohon juliana dan pohon Juliana sumber https://bandoengeuy.wordpress.com/2012/07/15/aloen-aloen-bandoeng/

            
              Wihelmina Helena Pauline Maria bertahta sejak tahun 1890-1948. Namun setelah merayakan pesta emas tahtanya, ia menyerahkannya kepada putirnya Juliana Louise Emma Marie Wihelmina (1948-1980). Kedua pohon tersebut sering dijadikan tempat berteduh masyarakat dari teriknya sinar matahari. Namun menjelang pendudukan Jepang, pohon beringin di tengah alun-alun itu tumbang. Kata orang tua, itulah ciciren (tanda-tanda) kejatuhan Belanda di tanah jajahannya.


                     Pada waktu itu terdapat banyak kegiatan yang "rajin" disenggarakan di tempat Alun alun Bandung, dari mulai panggung untuk tinju (atau dikenal dengan boksen kalo kata orang dulu), adu domba, adu panahan, area jajanan atau yang dikenal dengan "PUJASERA" sampe pertandingan sepak bola. Semua ada disana membuat para muda mudi tua muda tumpah ruah menikmati berbagai macam hal hiburan pada waktu itu.


     kegiatan seputar Alun Alun Kota Bandung tempo dulu
                
            Tak hanya kegiatan hiburan semata tapi di area Alun alun bandung terdapat kisah yang cukup seram. Dahulu di depan Bale Bandung dibuat sebuah tiang mirip gawang sepak bola. Di “mistar gawang” tergantung beberapa tambang yang banyaknya disesuaikan dengan jumlah terdakwa yang akan dieksekusi hari itu. Di saat tanam paksa atau “Cultuur Stelsel” yang dikomando Gubernur Jenderal Daendels seorang “Marschallk” atau dalam telinga orang pribumi terdengar sebagai “Mas Galak” banyak orang pribumi yang membelot dan melawan. Mereka itulah yang akan diadili dan dieksekusi di tiang gantungan Alun-alun Bandung atau di lapangan Tegallega.

              Adalah Alimu, seorang juru tulis “Koffie Pakhuis” melihat bahwa pada saat itu kompeni amat serakah dalam membeli kopi dari rakyat dengan harga murah. Alimu lalu membelot, ia bersekutu dengan mandor agar setiap kopi yang dipanen rakyat tidak dijual kepada kompeni melainkan kepada orang Inggris di Cirebon, karena tawarannya lebih tinggi. Ketika Alimu dan mandor sedang membawa kopi dengan menggunakan pedati yang ditarik kerbau menuju Cirebon, penguasa keamanan bernama Schout yang oleh orang Bandung dipanggil “Tuan Sakaut” berang. Beberapa aparat segera mengejar memakai kuda. Alimu dan mandor ditangkap lalu diadili singkat di Bale Bandung. Tanpa bisa membela diri, tanpa didampingi pengacara. Hakim dan jaksa sepakat untuk menghukum mati Alimu dan sang mandor dengan hukuman gantung di tiang gantungan.

                Cerita para tahanan yang dieksekusi di tiang gantungan bukan hanya itu saja. Khususnya di masa tanam paksa. Banyak rakyat yang dianggap “makar” karena menentang penjajah Belanda ditangkapi. Termasuk garong, perampok, dan para preman yang selalu meresahkan masyarakat. Sidangnya, ya itu tadi, dilakukan singkat di Bale Bandung, saat itu juga para terdakwa divonis mati di tiang gantungan. 

              Dalam  masyarakat Kota Bandung, alun-alun memiliki beberapa fungsi. Selain merupakan paru-paru kota dan tempat masyarakat bersosialisasi, alun-alun pernah menjadi saksi sejarah lahirnya Negara Pasundan versi  Partai Rakyat Pasoendan (PRP) yang diproklamirkan pada tanggal 4 Mei 1947. Proklamasi negera boneka Belanda itu disiarkan oleh radio resmi Belanda dan dihadiri Van Mook serta partai politik Belanda seperti Kathotliek Vilks Partij (KVP) dan Indo Europee Verbond (IEV). Naskahnya dibuat dalam tiga bahasa (Rosidi, 2000:499).

             Naskah proklamasi dalam Bahasa Sunda dibacakan oleh R.A.A. Moesa Soeria Kartalegawa (Ketua Pengurus Besar), naskah dalam Bahasa Belanda dibacakan Mr. Koestomo (Sekretaris) dan naskah dalam Bahasa Indonesia dibacakan oleh Soeleiman. Kartalegawa adalah bekas  Bupati Garut yang dipecat pada zaman pendudukan Jepang. Namun umur Negara Pasundan tersebut rupanya tidak bertahan lama. Setelah tiga kali diselenggarakan Konferensi Djawa Barat yang bertujuan membentuk Badan Pemerintahan Daerah Sementara (Recomba), Negara Pasundan versi P.R.P. akhirnya bubar.

             Sebagai ruang terbuka yang letaknya di pusat kota, alun-alun sudah beberapa kali mengalami salin rupa. Bahkan karena seringnya hail itu terjadi, warga kota menjadikannya sumber desas-desus. Jika dulu dijadikan ciciren jatuhnya pemerintahan Hindia Belanda, maka setelah kemerdekaan, alun-alun dijadikan ciciren adanya penggatian pimpinan daerah (wali kota). Dalam Bahasa Sunda, ciciren artinya sama dengan pertanda akan terjadi sesuatu.
   
              Dan sekarang melalui sentuhan kreator muda Bapak Wali Kota Bandung Ridwan kamil Alun-alun Kota bandung kembali menjadi tempat yang nyaman untuk berkegiatan, dari mulai hanya sekedar duduk duduk ataupun beraktivitas lainnya. Semoga para generasi mendatang dapat mempertahankan keindahan dan menjadikan alun alun bandung ini sebagai saran positif sebagaimana dilakuakn oleh warga Bandung tempo dulu.




Sumber : http://bandungdansekitarnya.blogspot.com/2011/07/alun-alun-bandung-tinggal-nama.html
                https://bandoengeuy.wordpress.com/2012/07/15/aloen-aloen-bandoeng/
                    https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/24/bioskop-di-bandung/)
                http://id.wikipedia.org/wiki/Alun-alun_Bandung
                berbagai Sumber.






Selasa, 27 Januari 2015

Masjid Agung Provinsi Jawa Barat

        Akhir akhir ini warga bandung di buat terkagum kagum oleh salah satu buah tangan Bapak Walikota bandung saat ini yaitu Bapak Ridwan Kamil yang berhasil menyulap taman alun alun dan masjid agung yang tadinya biasa saja menjadi sebuah aren berkumpul yang nyaman.

     Siapapun akan sepakat bahwa lapangan alun alun menjadi sebuah euforia para warga yang sudah rindu akan tempat terbuka hijau di kota Bandung. Berdampingan dengan lapangan alun alun Bandung berdiri pula bangunan megah yang menjadi salah satu ikon di kota Bandung. Masjid yang bersejarah yang telah menyaksikan perjalanan panjang kota bandung berdiri dengan megah nan indah tepat diseberang lapangan alun alun Bandung. Ia telah menjadi saksi bisu akan apa yang terjadi dalam riak gelombang sebuah kota.

     Masjid Raya Bandung provinsi jawa Barat,  dulu dikenal dengan nama Masjid Agung Bandung. Status masjid ini adalah sebagai masjid provinsi bagi Jawa Barat. Masjid ini pertama dibangun tahun 1810, dan sejak didirikannya, Masjid Agung telah mengalami delapan kali perombakan pada abad ke-19, kemudian lima kali pada abad 20 sampai akhirnya direnovasi lagi pada tahun 2001 sampai sampai peresmian Masjid Raya Bandung 4 Juni 2003 yang diresmikan oleh Gubernur Jabar saat itu, H.R. Nuriana. Masjid baru ini, yang bercorak Arab, menggantikan Masjid Agung yang lama, yang bercorak khas Sunda.
Kemegahan Masjid Agung Bandung waktu itu sampai-sampai di-abadikan dalam lukisan pelukis Inggris bernama W Spreat pada tahun 1852. Dari lukisan tersebut, terlihat atap limas besar bersusun tiga tinggi menjulang dan mayarakat menyebutnya dengan sebutan bale nyungcung


        Masjid Raya Bandung Jawa Barat sebelumnya bernama Masjid Agung didirikan pertama kali pada tahun 1812. Masjid Agung Bandung dibangun bersamaan dengan dipindahkannya pusat kota Bandung dari Krapyak, sekitar sepuluh kilometer selatan kota Bandung ke pusat kota sekarang. Masjid ini pada awalnya dibangun dengan bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil air wudhlu. Air kolam ini berfungsi juga sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di daerah Alun-Alun Bandung pada tahun 1825.

       Setahun setelah kebakaran, pada tahun 1826 dilakukan perombakkan terhadap bangunan masjid dengan mengganti dinding bilik bambu serta atapnya dengan bahan dari kayu. Perombakan dilakukan lagi tahun 1850 seiring pembangunan Jalan Groote Postweg (kini Jalan Asia Afrika). Masjid kecil tersebut mengalami perombakkan dan perluasan atas instruksi Bupati R.A Wiranatakusumah IV atap masjid diganti dengan genteng sedangkan didingnya diganti dengan tembok batu-bata. Seiring perkembangan zaman, masyarakat Bandung menjadikan masjid ini sebagai pusat kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak umat seperti pengajian, perayaan Muludan, Rajaban atau peringatan hari besar Islam lain bahkan digunakan sebagai tempat dilangsungkan akad nikah. Sehingga pada tahun 1900 untuk melengkapinya sejumlah perubahan pun dilakukan seperti pembuatan mihrab dan pawestren (teras di samping kiri dan kanan).  Pada tahun 1930, kembaliperombakan  dilakukan dengan membangun pendopo sebagai teras masjid serta pembangunan dua buah menara pada kiri dan kanan bangunan dengan puncak menara yang berbentuk persis seperti bentuk atap masjid sehingga semakin mempercatik tampilan masjid. Konon bentuk seperti ini merupakan bentuk terakhir Masjid Agung Bandung dengan kekhasan atap berbentuk nyungcung. 


            Menjelang konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Agung Bandung mengalamai perombakan besar-besaran. Atas rancangan Presiden RI pertama, Soekarno, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan total diantaranya kubah dari sebelumnya berbentuk “nyungcung” menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang. Selain itu menara di kiri dan kanan masjid serta pawestren berikut teras depan dibongkar sehingga ruangan masjid hanyalah sebuah ruangan besar dengan halaman masjid yang sangat sempit. Keberadaan Masjid Agung Bandung yang baru waktu itu digunakan untuk shalat para tamu peserta Konferensi Asia Afrika.


         Kubah berbentuk bawang rancangan Sukarno hanya bertahan sekitar 15 tahun. Setelah mengalami kerusakan akibat tertiup angin kencang dan pernah diperbaiki pada tahun 1967, kemudian kubah bawang diganti dengan bentuk bukan bawang lagi pada tahun 1970. Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat tahun 1973, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan besar-besaran lagi. Lantai masjid semakin diperluas dan dibuat bertingkat. Terdapat ruang basement sebagai tempat wudlu, lantai dasar tempat shalat utama dan kantor DKM serta lantai atas difungsikan untuk mezanin yang berhubungan langsung dengan serambi luar. Di depan masjid dibangun menara baru dengan ornamen logam berbentuk bulat seperti bawang dan atap kubah masjid berbentuk Joglo.

                Perubahan total terjadi lagi pada tahun 2001 merupakan bagian dari rencana penataan ulang Alun-alun Bandung dalam perencanaan tersebut penataan Masjid Agung dan alun alun merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan tanpa mengurangi arti alun alun sebagai ruang terbuka umum. Proses pembangunan Masjid Raya Bandung dimulai dengan peletakan batu pertama prose pembangunan kembali pada tanggal 25 Februari 2001. Keseluruhan proses pembangunannya memakan waktu selama 829 hari (2 tahun 99 hari) sejak peletakan batu pertama hingga diresmikan tanggal 4 Juni 2003 oleh Gubernur Jawa Barat H.R. Nuriana. Secar keseluruhan proses pembangunan dan penataan ulang kawasan alun alun dan masjid Agung Bandung dinyatakan selesai pada tanggal tanggal 13 Januari 2006. Bersamaan dengan pergantian nama dari Masjid Agung Bandung menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat serta menyandang predikat sebagai masjid provinsi, namun masyarakat Bandung kebanyakan masih menyebutnya sebagai Masjid Agung Bandung. 

             nah, itulah sedikit mengenai perjalanan panjang masjid agung Provinsi Jawa barat yang sering kita sebuk sebagai Masjid Agung Bandung. Semoga bisa menjadi referensi yang membantu para warga Bandung Khususnya untuk lebih mengenal Kotanya.



Sumber Referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Raya_Bandung
                                berbagai sumber































Rabu, 21 Januari 2015

Sejarah singkat Gedung sate




    Hai Guys, buat yang asli Bandung atau yang sering mampir ke Bandung atau bahkan yang pernah ke Bandung pasti kenal dong sama gedung satu ini yang sudah jadi icon kota Bandung. Kayaknya kurang lengkap kalo ke Bandung dan enggak mampir buat  foto foto atau sekedar liat liat gedung yang satu ini. Cuma, dari sekian banyak yang udah mampir ke gedung ini ada yang tahu ga sih sejarah gedung ini?

    Gedung sate dikenal dengan ornamen khasnya yang berada dipuncak gedung tersebut yang memang mirip dengan sate. Gedung Sate yang pada masa pemerintahan Hindia Belanda disebut dengan gedung Gouvernements Bedrijven (GB), peletakan batu pertama gedung ini dilakukan oleh Johanna Cathernia Coops, beliau adalah puteri sulung Walikota Kota Bandung pada waktu itu, bapak B.Coops dan Petronella Roelofsen mewakili Gubernur Jenderal dari Batavia (atau Jakarta sekarang) J.P. Graaf Van Linburg Stirum. Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 27 juli 1920. 

    Bicara soal Gedung Sate, Gedung sate atau  gedung Gouvernements Bedrijven ini dirancang oleh tim yang terdiri dari Ir. J. Gerbener, juga arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks serta pihak Gemeente van Bandoeng (Gementee itu sebutan untuk pemerintah kota), diketuai Kol. Pur. VL. Slors dengan melibatkan 2000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat, atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton, dibantu tukang batu, kuli aduk dan peladen yang berasal dari penduduk kampung Sekeloa, KAmpung Coblong Dago, KAmpung Gandok, dan kampung Cibarengkok yang sebelumnya mereka menggarap Gedong Sirap (Kampus ITB) dan Gedong Papak (Sebutan untuk Balai Kota Bandung tempo dulu). 

     

       Arsitektur Gedung Sate merupakan hasil karya arsitek Ir. J.Gerber dan kelompoknya yang tidak terlepas dari masukan maestro arsitek belanda Dr.Hendrik Petrus Berlage, yang bernuansakan wajah arsitektur tradisional Nusantara. Banyak kalangan arsitek dan ahli bangunan menyatakan Gedung Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona dengan gaya arsitektur unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa, (Indo Europeeschen architectuur stijl). Beberapa pendapat tentang megahnya Gedung Sate diantaranya Cor Pashier dan jan Wittenberg, dua arsitek Belanda, yang mengatakan "langgam arsitektur Gedung Sate adalah gaya hasil eksperimen sang arsitek yang mengarah pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa". D.Ruhl dalam bukunya Bandoeng en haar Hoogvlakte 1952, mengatakan "Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia".

       
        Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m².Gerber sendiri memadukan beberapa aliran arsitektur ke dalam rancangannya. Untuk jendela, Gerber mengambil tema Moor Spanyol, sedangkan untuk bangunannya dalah Rennaisance Italia. Khusus untuk menara, Gerber memasukkan aliran Asia, yaitu gaya atap pura Bali atau pagoda di Thailand. Di puncaknya terdapat "tusuk sate" dengan 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden jumlah tersebut adalah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate ini, nah sekarang mulai paham ya arti dari tusuk sate dan "sate" nya yang berjumlah 6 itu? hehehe.




       Fasade (tampak depan) Gedung Sate ternyata sangat diperhitungkan oleh para arsitekturnya. Dengan mengikuti sumbu poros utara-selatan (yang juga diterapkan di Gedung Pakuan, yang menghadap Gunung Malabar di selatan), Gedung Sate justru sengaja dibangun menghadap Gunung tangkuban perahu di sebelah utara guys. Dalam perjalanannya semula diperuntukkan bagi Departemen Lalulintas dan Pekerjaan Umum, bahkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda setelah Batavia dianggap sudah tidak memenuhi syarat sebagai pusat pemerintahan karena perkembangannya, sehingga digunakan oleh Jawatan Pekerjaan Umum. Tanggal 3 desember 1945 terjadi peristiwa yang memakan korban tujuh orang pemuda yang mempertahankan Gedung Sate dari serangan pasukan Gurkha. Untuk mengenang ke tujuh pemuda itu, dibuatkan tugu dari batu yang diletakkan di belakang halaman Gedung Sate. Atas perintah Menteri Pekerjaan Umum pada tanggal 3 Desember 1970 Tugu tersebut dipindahkan ke halaman depan Gedung Sate. Konon ada tersiar kisah mistis mengenai tugu batu ini. 



        Gedung Sate telah menjadi salah satu tujuan obyek wisata di kota Bandung. Khusus wisatawan manca negara banyak dari mereka yang sengaja berkunjung karena memiliki keterkaitan emosi maupun history pada Gedung ini. Keterkaitan emosi dan history ini mungkin akan terasa lebih lengkap bila menaiki anak tangga satu per satu yang tersedia menuju menara Gedung Sate. Ada 6 tangga yang harus dilalui dengan masing-masing 10 anak tangga yang harus dinaiki. 

       Nah, mengingat perjalanan panjang yang sudah di tempuh oleh gedung ini maka sudah seharusnya kita sebagai warga kota Bandung untuk menjaga dan melestarikan gedung peninggalan bersejarah yang luar biasa ini. Sedikitnya dengan tulisan ini kita bisa lebih mengenal mengenai Gedung Sate dari mulai asal usul gedung tersebut mengapa bernama sate dan lain sebagainya, tidak hanya digunakan sebagi temat nongkrong atau foto foto saja.

      


sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Sate
               http://www.sobatpetualang.com/2013/12/sejarah-berdirinya-gedung-sate-di.html



   


Balai Kota Bandung, Kisah sebuah Gudang Kopi

Balaikota Bandung... Sebuah gedung yang bernuansakan Putih, yang berada di Jalan Wastukancana. Gedung yang juga diapit oleh Jalan Ace...